CARA MENGUATKAN RASA CINTA DALAM
KELUARGA
Cinta
adalah sebuah perasaan hati yang halus,
yang kadang – kadang bisa bertambah kuat dan kadang-kadang pula bisa
melemah, semakin diperjuangkan rasa cinta maka semakin kuat pula perasaan
cinta.
إِنَّمَا الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مِثْلُ الْقَلْبِ
كَمِثْلِ رِيْشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيْحُ
ظَهْراً لِبَطْنٍ
Artinya
: “Sungguh dia dinamakan hati karena taqollubihi' (perubahannya).
Perumpamaan hati adalah seperti bulu yang tersangkut di pangkal pohon, kemudian
angin menelungkupkan bagian atas menjadi bawahnya”[1].
Cinta tidak
butuh gombalan tapi cinta membutuhkan pengorbanan dan perhatian, cinta tidak
butuh rayuan tapi cinta butuh perasaan dan rasa simpati, cinta bukan hanya
ucapan dan usaha tapi harus diiringi dengan tanggung jawab, dan juga harus
saling menghormati dan saling
menghargai. Ketika cinta diuji disitulah letak cinta sejati, bagaiamana ia
membela perasaannya. Maka didalam sebuah keluarga sangatlah membutuhkan rasa
cinta, rasa yang telah diberikan Allah kepada makhluknya yang harus selalu
dijaga dan dipelihara sebaik - baiknya. Disini ada beberapa cara untuk
menguatkan rasa cinta kita didalam keluarga yaitu :
a) Hubungan
yang baik terhadap Allah subhanahu wa ta’ala,
b) Berhias,
c) Memberikan
hadiah,
d) Sentuhan
cinta,
e) Mengungkapkan
perasaan,
f) Menjaga
rahasia rumah tangga,
g) Pujian,
h) Berdiam
dengan cara yang baik.
Cinta dalam keluarga harus dibela dan diperjuangkan, bukan hanya
didiamkan sehingga kering, busuk dan mati. Terwujudnya cinta yang kuat diiringi iman dan taqwa kepada Allah untuk
menghasilkan kebahagiaan rumahtangga, karena itu adalah dambaan setiap pasangan
suami-istri.
A ) HUBUNGAN YANG BAIK KEPADA ALLAH
SWT
Sesunggunya hubungan yang baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala
adalah salah satu cara yang ampuh untuk menguatkan rasa cinta antara suami
istri, yang pastinya dengan ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya
Allah lah yang menciptakan rasa cinta dan Allah pula yang bisa menghilangkan rasa
cinta itu, bisa meninggi rendahkan derajat cinta sekehendak-Nya. Sebagaimana
rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
"إِنَّ قُلُوْبَ بَنِى
آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعَ الرَّحْمَنِ. كَقَلْبٍ وَاحِدٍ
يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ". ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ "اللهُمَّ ! مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ ! صَرِّفْ
قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ"
Artinya : "Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya", kemudian rasulullah saw berdo’a : "Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu”[2].
Inilah bukti salah satu yang dicontohkan rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam
kepada kita, disaat hati atau cinta kita terasa menurun ataupun lagi kurang
stabil, maka kepada Allah lah kita berserah, kepada Allah lah kita meminta, dan
kepada Allah pula lah kita mengadu. Jangan sampai kita biarkan hati dan
perasaan cinta mengering dan membusuk sehingga mati, karena tidak dipelihara
dan disirami, maka peliharalah dan siramilah hati kita dengan mengingat Allah
(dzikrullah), tentunya dengan cara berhubungan yang baik kepada Allah subhanahu
wa ta’ala. Sungguh Allah maha kuasa atas segala yang tampak bagi kita atau yang
tidak bisa dilihat dan diraba oleh makhluknya, Allah maha melihat dan maha
mengetahui atas segala niat dan perbuataan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Maka
semestinyalah kita sebagai hamba yang bertaqwa, untuk melakukan segala sesuatu
hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala, tanamkan rasa cinta kita kepada Allah
subhanahu wa ta’ala dan rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari segalanya, maka kita
kita akan mendapatkan keimanan dan cinta yang hakiki. Sebagaimana rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam
bersabda :
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلاَثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Artinya : “Dari
Anas, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda : “Ada tiga hal yang barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan
manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali
kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka”[3].
Dan
juga disabda yang lain :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Artinya
: “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian sampai diriku menjadi
seorang yang lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia”[4].
Dari dua
hadist ini kita bisa mengetahui bahwasanya ada urutan atau batasan kita untuk
mencintai sesama makhluk Allah, urutannya adalah :
a)
Cinta pertama adalah cinta kepada Allah subhanahu
wa ta’ala, ada hadist yang diriwayatkan imam muslim tentang orang yang
mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى
: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى، وَ أَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى، فَإِنْ ذَكَرَنِى
فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى، وَ إِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِى
مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَ إِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ
ذِرَاعًا، وَ إِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَ إِنْ
أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.
Artinya : “Dan dari Abi hurairah radhiyallahu ‘anhu
berkata : bahwa rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : Aku adalah sepertimana
sangkaan hamba-Ku, dan Aku bersama dengannya ketika ia mengingati Aku. Jika ia
ingat kepada-Ku di dalam hatinya, Aku ingat kepadanya di dalam hati-Ku. Dan
jika ia ingat kepada-Ku di khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya
dalam khalayak ramai lebih baik. Dan jika ia mendekati kepada-Ku sejengkal, Aku
pun mendekatinya sehasta. Dan jika ia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku
mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku datang
kepadanya sambil berlari”[5].
b)
Cinta kedua adalah cinta kepada rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, salah satu bukti cinta kepada Allah adalah bershalawat
kepada beliau, dan menjalankan sunnahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَائكتَهُ يُصلُّونَ عَلَى النَّبِيِِّ يَأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسْلِيْمًا
Artinya : “Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya”. (QS. Al – ahzab
:56)
c)
Cinta ketiga adalah cinta kepada kedua orang
tua, ibu lah yang melahirkan kita, dan ayahlah yang bekerja dan menafkahi kita,
merekalah yang mendidik dan membesarkan kita, dengan pengorbanannya tiada tara,
maka sepatutnyalah kita untuk mencintai mereka. Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ
الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Artinya : "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah : "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al – isro : 24)
d)
Cinta kepada sesama manusia. Kita juga
dinjurkan untuk mencintai antara sesama, dan Allah sudah menjanjikan cinta
kepada hambanya bagi orang yang mencintai sesama karena Allah subhanahu wa
ta’ala. Sebagaimana sabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النّبِيّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم أَنَّ
رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِى
قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ, عَلَى مَدْرَجَتِهِ, مَلَكًا. فَلَمّا
أَتَى عَلَيْهِ قَالَ : أَيْن تُرِيْدُ
؟ قَالَ أُرِيْدُ أَخًا لِيْ فِى هـذِهِ الْقَرْيةِ. قَالَ : هَلْ لَكَ عَلَيْهِ
مِنْ نِعمَةٍ تَرُبُّهَا ؟َ قَالَ :
لَا، غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللهِ عَزّ وَجَلّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ
اللهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ
أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ.
Artinya : "Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi
Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Bersabda : "Ada seseorang mengunjungi
saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui
orang itu. Ketika orang tersebut sampai di desa yang dituju, malaikat bertanya,
Mau ke mana kamu ? Orang itu menjawab, Aku mau menjenguk saudaraku di desa ini.
Tanya malaikat selanjutnya, Apakah dengan mengunjunginya kau memperoleh banyak
keuntungan ? Orang itu menjawab, Tidak, aku hanya mencintainya karean Allah
Azza wa Jalla. Malaikat itu mengatakan, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah
untuk memberitahukan kamu bahwa Allah menyenangimu sebagaimana kamu menyenangi
saudaramu karena Allah"[6].
Jadi, dalam
hal cinta mencintai ada urutan tertentu yng harus diutamakan untuk
dicintai,tidak wajar mencintai seseorang melebihi cinta kepada Allah subhanahu
wa ta’ala dan rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seandainya belum punya
rasa cinta kepada Allah dan rasulnya, atau cinta kepada makhluknya melebihi
cinta kepada Allah, maka berarti perlu ditanyakan imannya,,?
Ada sebuah kisah yang saya baca dari sebuh web/blog
yang dipunyai oleh saudara atas nama @jayadi72 yang isinya : “Seorang
isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya — sambil menangis isteri
berkata, “Inilah janji kami sebagai suami isteri. Jika abang pergi lebih dulu
maka engkau lah yang memandikan jenazah abang, Andai engkau yang pergi dulu
dari abang, abang yang akan memandikan jenazahmu…”
Ketika
waktunya memandikan sang mayit, seorang ustadz bertanya apakah istrinya mau
memandikan jenazah suaminya..? Ustadz tadi bersama beberapa orang menemani si
isteri memandikan jenazah suaminya.
Dengan
tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,
“Inilah
wajah suami yang ku sayang, tetapi Allah lebih sayang padamu, Wahai suamiku..
Semoga Allah ampunkan dosamu dan menyatukan kita di akhirat nanti..”
Saat
membasuh tangan jenazah suaminya, sang isteri berkata..
“Tangan
inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami, dan
menjadi darah daging kami, Semoga Allah beri pahala untuk mu wahai suami ku..”
Saat
membasuh tubuh jenazah suaminya, ia pun berkata…
“Tubuh
inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku.., Semoga Allah
beri pahala berganda untukmu wahai suamiku…”
Kemudian
saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali sang istri berkata..
“Dengan
kaki ini suamiku keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri
sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku…
Semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang
berlipat-lipat ganda..”
Selesai
memandikan jenazah suaminya, si isteri mengecup sayu suaminya dan berkata ..
“Terima
kasih suamiku.. Karena aku bahagia sepanjang menjadi isterimu dan terlalu
bahagia.. Dan terima kasih karena meninggalkan aku bersama permata hatimu yang
persis dirimu dan aku sebagai seorang istri ridha akan kepergianmu karena kasih
sayang Allah kepadamu”[7].
Subhanallah, inilah sebuah kisah yang
berdasarkan iman, yakin segala sesuatu yang dimiliknya itu hanyalah sebuah
titipan yang suatu saat akan diambil kembali oleh Allah subhanahu wa ta’ala,
dan ia pun ridha atas semua kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh sangat
indah orang yang saling mencintai karena Allah, hati terasa damai dan tenang,
yang selalu dihiasi dengan iman. Dari Allah lah kita mendapat segala sesuatu,
dan kepada-Nya pula kita kembalikan semuanya.
Disini ada
beberapa ciri rumah tangga yang dipenuhi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada
Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu :
a.
Rumah tangganya selalu hidup, penuh semangat
dan optimis dalam segala hal, sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ الله َفِيْهِ
وَ الْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Artinya
: “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah
yang tidak digunakan untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”.
Jadi,
rumah tangga yang penghuninya selalu diiringi dzikrullah akan hidup dan selalu
bergairah, namun sebaliknya, rumah bagaikan kuburan atau mati, gelap dan sunyi
apabila tidak diiringi dengan dzikrullah. Karena Zikir
adalah suatu kegiatan atau ucapan yang bertujuan agar selalu ingat kepada sang
maha pencipta, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
b.
Rumah tangganya yang menjadi tempat untuk shalat,
maksudnya adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga dijadikan salah satu
tempat untuk beribadah, mendirikan shalat sunnat, sedangkan shalat wajib, bagi
laki – laki dianjurkan agar berjama’ah di mesjid atau musholla. Sebagaimana Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَأَوْحَيْنَا
إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوْتًا وَاجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَاةَ وَبَشِّرِ
ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Dan
Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa
buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu
rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta
gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (QS.
Yunus :87)
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِذَا قَضَى اَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ فِى مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ
نَصِيْبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَاِنَّ اللهَ جَاعِلٌ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا
Artinya : “Apabila seorang dari kamu sekalian telah menyelesaikan shalatnya di
masjidnya, maka berilah rumahnya bagian dari shalatnya. Karena Allah
sesungguhnya menjadikan suatu kebaikan dari shalatnya”[8].
Dan
di riwayat yang lain, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَعَلَيْكُمْ
بِالصَّلَاةِ فِى بُيُوْتِكُمْ، فَاِنَّ خَيْرَ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ .
اِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوْبَةَ
Artinya
: “Maka shalatlah kamu sekalian di rumah kalian, karena shalat yang paling
utama ialah shalat seseorang di rumahnya sendiri, kecuali shalat fardhu”[9].
c.
Saling menasehati antara suami istri. Salah
satu ciri saling menasehati antara suami istri, sang suami menanyakan kepada
istrinya, apakah istrinya sudah shalat apa belum,,? Sudahkan membaca wirid dan
berdo’a,,? Begitu juga sebaliknya, sang istri mengingatkan agar suaminya pergi
ke mesjid untuk shalat berjama’ah, mencari nafkah untuk keluarga, dan lain –
lain yang berkaitan dengan tugas seorang suami. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam sudah memberikan contoh kepada kita yang
dilakukan beliau saat membangunkan sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika
mengerjakan shalat malam.
أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يُصَلِّى صَلَاتَهُ باللَّيْلِ، وَهِيَ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ ،
فَإذَا بَقِيَ الوِتْرُ،
أيْقَظَهَا فَأوْتَرتْ
Artinya
: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sedangkan
‘Aisyah tidur dalam keadaan melintang di atas tempat tidurnya. Ketika beliau
mau melakukan shalat witir beliau pun membangunkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan
‘Aisyah pun mengerjakan shalat witir”[10].
Dan diriwayat yang lain :
إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ
وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلِّيَا رَكْعَتَيْنِ كَتَبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ
اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ
Artinya : “Jika seorang suami bangun pada
malam hari dan membangunkan istrinya lalu mereka shalat dua raka’at, maka
keduanya dicatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allah”[11].
Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ
رِزْقاً نّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتّقْوَىَ
Artinya : “Dan perintahkanlah kepada
keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rizki kepadamu, bahkan Kami-lah yang memberi rizki kepadamu.
Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa”. (QS. Thoha :132)
d.
Membaca surat Al – baqarah didalam rumah.
Sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَ أُ فِيهِ سُورَ ةُ
الْبَقَرَةِ
Artinya : "Janganlah
kalian jadikan rumah-rumah kalian bagaikan kuburan, sungguh syetan akan lari
dari rumah yang didalamnya dibaca surat Al Baqarah"[12].
Sungguh masih banyak manfaat dan
hikmah dari kebaikan hubungan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan itu
adalah sebuah kewajiban kita sebagai hamba Allah serta menghidupkan sunnah
rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dengan mendekatkan diri kepada Allah maka
rumah kita akan dipenuhi dengan rasa cinta, cinta seorang hamba karena Allah subhanahu
wa ta’ala. Sehingga terciptalah sebuah keluarga yang bernuansa islami, cinta
yang penuh berkah dan kasih sayang antara suami istri, tidak akan hilang selama
iman masih ada didalam hati. Jagalah hati dan iman kita dengan selalu mengingat
Allah yang maha kuasa atas segalanya.
B ) BERHIAS
Seorang istri yang paham agama dan sadar akan
kondisi dirinya, pasti selalu Memperhatikan penampilan tubuh dan pakaian yang
memiliki dampak positif dalam menjaga keharmonisan dalam kehidupan rumah
tangga. Seorang istri berusaha berhias agar terlihat menarik dengan pakaian
yang menawan dan wewangian yang menggoda agar dapat memikat hati suami laksana
bidadari untuk sang suami, begitu juga sang suami berusaha berpenampilan rapi
dan menawan agar dapat memikat hati sang istri laksana arjuna di hadapan sang
istri. Maka sangatlah indah kehidupan ini, yang dihiasi dengan indahnya
pemandangan yang tampak dilihat oleh mata, lagi halal dan diridhoi oleh Allah
subhanahu wa ta’ala, karena memang sudah jadi tabiat manusia yang menyukai
segala sesuatu yang indah. Dan sungguh Allah subhanahu wa ta’ala menyukai
sesuatu yang indah. Sebagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ
يُحِبُّ الْجَمَالَ
Artinya : “sesungguhnya Allah itu indah, dan
menyukai segala sesuatu yang indah”[13].
Dan
disabda yang lain :
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ
وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Artinya
: “Dari Abi
Hurairah, berkata: rasul shallahu ‘alaihi wa sallam
ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang baik? Beliau menjawab yang menyenangkan
suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi
suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi”[14].
Didalam
berhias juga kita ada batasan dan aturan agar tidak melebihi kadar batas yang
sudah ditentukan oleh agama, namun sebaliknya kebanyakan manusia yang
berpenampilan indah salah menggunakan niat dan tempat. Sebenarnya untuk
siapakah kita harus berhias dan apa kegunaanya berhias,,?
وَقُلْ
لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا
يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ
عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ
آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ
بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي
أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ
التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ
لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ
مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Artinya : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah
mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah
mereka menutup kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, dan putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung". (QS. An – nur : 31)
Ibnu katsir menafsirkan ayat ini :
وَلَا
يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Artinya : “janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang
biasa tampak darinya”. Tidak dibolehkan untuk melihatkan atau menampakkan
perhiasan kepada orang asing, kecuali yang tidak memungkinkan untuk
disembunyikan[15].
Jadi yang dibolehkan hanyalah untuk :
1.
kecuali
kepada suami mereka,
2.
atau
ayah mereka (ayah kandung),
3.
atau
ayah suami mereka (mertua),
4.
atau
putera-putera mereka(anak – anaknya sendiri),
5.
dan
putera-putera suami mereka(anak tiri dari laki – laki),
6.
atau
saudara-saudara laki-laki mereka(ipar),
7.
putera-putera
saudara laki-laki mereka(keponakan),
8.
atau
putera-putera saudara perempuan mereka(keponakan),
9.
atau
wanita-wanita Islam,
10.
atau
budak-budak yang mereka miliki,
11.
atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita),
12.
atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Tugas untuk berhias diri dan memakai wangian
atau parfum bukan untuk seorang istri saja, akan tetapi juga diharuskan untuk
seorang suami. Sebagian para suami ada yang kurang peka akan keadaan dirinya atau
tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk membuat istrinya bahagia sama
dengan dia bahagia ketika melihat istrinya, mereka beranggapan bahwa
istri-istri mereka sajalah yang hanya diwajibkan untuk berhias diri dan memakai
wangi-wangian dihadapan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan mereka, tidak perlu untuk demikian dalam menghias
diri.!? Ibnu Katsir rahimahullahu ‘anhu berkata dalam menafsirkan firman Allah
ta’ala :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya : “Dan bergaullah dengan mereka dengan baik”. (QS. An
– nisa : 19)
“Indahkanlah
perkataan dan penampilan kalian semampunya untuk istri kalian, sebagaimana
engkau menyenangi ia (istrimu) berhias diri maka hendaknya engkau juga berbuat
demikian dihadapannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang
dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya”[16]. (QS. Al – baqarah : 228)
Bahkan
rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memperhatikan dalam berhias diri
agar kelihatan indah dalam penampilannya ketika berhadapan dengan istri-istrinya.
Sebagaimana yang telah disampaikan oleh sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
yang berbunyi :
عَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
Artinya : “Dari Aisyah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam jika masuk ke rumahnya maka yang pertama kali beliau lakukan adalah
bersiwak”[17].
Dengan demikian, pandangan suami istri pun akan
menjadi indah ketika saling memandang, sehingga membuat sang suami bertambah
cintanya kepada istrinya akan keindahannya, begitu juga sebaliknya, sang istri
pun bertambah cintanya atas keindahan yang dikenakan oleh suaminya. Pandangan
suami terfokus untuk istrinya dan pandangan si istri juga tertuju hanya untuk
suaminya. Maka insya Allah dengan demikian terhindarlah dari segala pandangan
yang diharamkan oleh agama. Bahkan diperbolehkan bagi seorang suami sengaja
untuk memiliki pakaian yang agak mahal sedikit demi menjaga penampilannya di
hadapan istrinya selama tidak sampai derajat pemborosan. Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhuma berkata :
كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ يَلْبَسَهَا
الْحِبَرَةَ
Artinya
: “Pakaian
yang paling senang dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
Hibaroh”[18]. Diartikan oleh imam muslim : Hibaroh adalah
pakaian yang terbuat dari kain (kapas) yang dipenuhi hiasan.
Yang dimaksud berhias disini adalah berhias
dalam segala kebaikan, baik dari segi akhlak, penampilan, tutur kata yang
indah, lemah lembut dalam bersikap dan yang lainya agar terciptanya
keharmonisan dalam keluarga, sehingga menjadi keluarga yang sakinah mawaddan
dan rahmah.
C ) HADIAH
Memberi kejutan-kejutan kecil pada pasangan barangkali sangatlah
jarang yang dilakukan pasangan suami istri. Apalagi jika usia perkawinan telah
berjalan cukup lama. Kesibukan bekerja, atau aktivitas yang memakan banyak
waktu, sehingga membuat sepasang suami istri sering lupa pada keluarga dan
momen-momen penting, yang mana seharusnya saat itu mereka punya waktu berdua. Setidaknya
aturlah waktu luang dan berikanlah kejutan dengan menghadiahkan sesuatu pada
pasangan, tidak harus mahal, namun akan berarti untuknya. Karena bagaimanapun
pada dasarnya tiap orang pasti senang menerima hadiah, apalagi dari orang yang
sangat mereka cintai. Hadiah atau kado kecil saja akan menjadi kenangan bagi seorang
pasangan, bahwa dia masih diperhatikan, merasa ada dan dihargai akan dirinya.
Hadiah memang selalu memberi kesan yang indah, rasa cinta dan penghargaan. Dan
seharusnyalah yang menerima hadiah, harus menampakkan wujud kesenangannya dan
ucapan terima kasih atas pemberiannya, karena pemberian hadiah adalah salah
satu wujud bukti bahwa kita begitu berharga disisi sang pemberi.
Didalam
pemberian hadiah terdapat sesuatu pengaruh yang besar dan sangat dalam diantara
pasangan kekasih. Dengan hadiah membuat diantara keduanya hilang akan perasaan
bosan dan sepi, menjadikan hati luluh atas wujud pemberian dan perhatian dari
antara kekasih, diri pun akan bahagia, rasa cinta dan kasih sayang bertambah,
sehingga bertambah kuatlah hubungan suami istri atau hubungan rumah
tangga. Memberikan hadiah bukanlah tugas
suami, atau pun tugas istri saja, akan tetapi keduanya harus saling memberikan
hadiah, sehingga masing-masing merasa dihargai, dimotivasi dan agar tidak satu
pihak saja yang bertambah cintanya, akan tetapi keduanya biar bertambah
cintanya, dan terhindarnya dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada ummatnya untuk memberikan sebuah hadiah
agar menguatkan perasaan cinta diantara kedua hati, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
Artinya : “Saling memberi
hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai”[19].
Dalam sebuah syair disebutkan :
Dalam sebuah syair disebutkan :
هَدَايَـا النَّـاسُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ # تُوْلَدُ فِـى قُلُوْبِهِمْ الْوِصَالَا
Artinya : “Hadiah-hadiah yang diberikan
sesama manusia
Dapat mendatangkan keeratan hubungan dalam hati-hati mereka”.
Dapat mendatangkan keeratan hubungan dalam hati-hati mereka”.
Berbagai macam seni dalam memberikan
sebuah hadiah kepada sang kekasih, diantarannya :
I.
Memberikan
kejutan,
II.
Memberikan
sesuatu yang khusus,
III.
Beraneka
ragam dalam memberikan hadiah,
IV.
Membuat
hadiah menjadi sesuatu yang indah, dan lain – lain.
Jadi,
seharusnyalah mempunyai kreatif dalam memberikan hadiah kepada kekasih agar
menghilangkan perasaan bosan menjadi sesuatu yang indah, yang membuat sesuatu
berharga dan membedakan antara pemberian biasa yang biasa dilakukan tiap hari. Dan
Perlu diketahui, dalam memberi hadiah dan menerimanya adalah salah satu sunnah
rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang patut dicontoh, sebagaimana yang disampaikan
oleh sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang diriwayatkan oleh imam bukhori
yang berbunyi :
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ
الْهَدِيَّةَ وَيُثِيْبُ عَلَيْهَا
Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah menerima hadiah dan dan membalasnya”[20].
Salah satu
dalam memberikan balasan dari sebuah hadiah dan sebagai seorang muslim
hendaklah mengatakan kepada saudaranya, “Jazakallah Khairan”, artinya semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan. Bahkan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga memberikan
peringatan kepada kita agar tidak meremehkan dalam hal memberikan sesuatu baik
dalam sebuah hadiah ataupun sedekah. Sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، لَا تُحْقِرَنَّ
جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
Artinya
: “Wahai wanita-wanita muslimah, jangan sekali-kali seorang tetangga
menganggap remeh untuk memberikan hadiah kepada tetangganya walaupun hanya sepotong
kaki kambing”[21].
Dan dilam hadist sayyidah ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha :
يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنِيْنَ، تَهَادُوْا وَلَوْ
فِرْسِنَ شَاةٍ, فَإِنَّهُ يُنْبِتُ الْمَوَدَّةَ وَيُذْهِبُ الضَّغَائِنَ
Artinya
: “Wahai wanita-wanita kaum mukminin, saling menghadiahilah kalian walaupun
hanya dengan sepotong kaki kambing, karena yang demikian itu akan menumbuhkan
rasa cinta dan menghilangkan kedengkian”[22].
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :
فَمَنِ
اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَّقِيَ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
Artinya
: “Maka sebisa – bisa kalianlah dalam menjaga diri kalian dari neraka
walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma”[23].
Dari tiga hadist ini, ternyata selain
menumbuhkan rasa cinta, juga membuat silaturrahim kita bertambah kuat,
hilangnya rasa kedengkian atau pun permusuhan, dan bisa menghindarkan diri dari
api neraka. Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan
permintaan ma'af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadam kan api
permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian.
Dan yang pasti masing – masing akan mendapatkan pahala. Bahkan sangat banyak
lagi manfaat dari sebuah hadiah, apa lagi kalau kita terapkan di rumah tangga
kita, hidup secara islami, diri pun jadi suci lahir dan batin. Didalam al –
qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS.
Az – zalzalah : 7)
Seorang istri lebih mudah tersentuh oleh hadiah
yang diberikan suaminya ketimbang terhadap hadiah orang lain, demikian pula
dengan sang suami. Bahkan bila mau, si isteri boleh memberikan sebagian maharnya
kepada sang suami asalkan secara sukarela. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
:
وَءَاتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
Artinya : “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang
kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka
menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka
makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan yang sedap lagi baik
akibatnya”. (QS. An – nisa : 4)
Bahkan
rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menerapkan pemberian hadiah
kepada istri - istrinya, sebagaimana driwayatkan oleh imam ahmad yang berbunyi
:
لَمَّا تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ سَلَمَةَ قَالَ لَهَا إِنِّي قَدْ أَهْدَيْتُ إِلَى
النَّجَاشِيِّ حُلَّةً وَأَوَاقِيَّ مِنْ مِسْكٍ وَلَا أَرَى النَّجَاشِيَّ إِلَّا
قَدْ مَاتَ وَلَا أَرَى إِلَّا هَدِيَّتِي مَرْدُودَةً عَلَيَّ فَإِنْ رُدَّتْ
عَلَيَّ فَهِيَ لَكِ قَالَ وَكَانَ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُدَّتْ عَلَيْهِ هَدِيَّتُهُ فَأَعْطَى كُلَّ امْرَأَةٍ
مِنْ نِسَائِهِ أُوقِيَّةَ مِسْكٍ وَأَعْطَى أُمَّ سَلَمَةَ بَقِيَّةَ الْمِسْكِ
وَالْحُلَّةَ
Artinya : “Ketika Nabi menikah dengan Ummu Salamah, beliau mengatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kesturi. Namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi sudah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu’. Ia (Ummu Kultsum) berkata, ‘Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti disabdakan Rasulullah, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau. Lalu beliau memberikannya kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kesturi, sedang sisa minyak kesturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah”[24].
D ) SENTUHAN CINTA
Salah
satu dalam menguatkan rasa cinta dalam pasangan suami istri adalah memberikan
sentuhan yang lembut, penuh kasih sayang dan cinta. Sentuhan lembut adalah
salah satu bahasa cinta dan kasih sayang, semestinya memang kasih sayang tidak
harus dibahasakan dengan sentuhan, tapi harus mencintai karena Allah subhanahu
wa ta’ala dengan tulus, akan tetapi bagaimanapun cinta dan kasih sayang tanpa
sentuhan bagaikan tumbuhan tanpa air, tidak ada siraman bahkan pupuk, yang
kalau dibiarkan bisa kering dan mati. “Cinta adalah sebuah kasih sayang, dan
cinta juga adalah sebuah sentuhan dari hati yang paling dalam, penuh dengan
kelembutan. Sentuhan hangat yang diberikan atau didapat dari kekasih adalah
salah satu jalan menuju keberkahan, karena inilah cara untuk menguatkan
silaturrahmi antara pasangan suami istri.
Tetaplah selalu romantis walau pun
sang istri sedang keadaan haid, bukan karena istri haid lantas meninggalkannya
karena tidak bisa menggaulinya, ataupun suami bekerja terus meninggalkannya.
Dan haid adalah sesuatu yg alamiah bagi
wanita, serta laki – laki adalah tugasnya untuk menafkahi keluarga. Bahkan
ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha sedang haid, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah tidur - tiduran dipangkuannya dan membaca quran. Hadist
tersebut adalah :
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا
حَائِضٌ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ
Artinya : "Dari 'Aisyah radhiyallahu
‘anha, ia berkata : Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur-tiduran
dipangkuanku pada saat aku haid lalu beliau membaca Al-Qur'an"[25].
Sentuhan cinta
bukan hanya dalam hal menyentuh, akan berarti masih banyak lagi yang lainnya,
baik dari hati ke hati ataupun mulut ke mulut. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اِسْتَوْصُوْا
بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنْ أَعْوَجَ مَا
فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ ، فَإِنْ
ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ
بِهِ أَعْوَجَ
Artinya
: “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari
tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang
paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan
mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok”[26].
Sangat dianjurkan bagi seorang suami untuk
berbuat baik dan lemah lembut kepada istrinya dalam segala hal, baik dalam
menasehati, menegur ketika ada kesalahan, dan yang lainnya. Namun sebaliknya,
jika kasar terhadap istri dalam segala hal, maka akibat buruk pun akan datang
kepadanya(suami).
Allah
Ta’ala berfirman :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ
وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS. Ali Imran: 159)
Dari
Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam beliau bersabda :
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي
الأَمْرِ كُلِّهِ
Maka
sebaliknya sikap kasar akan mendatangkan keburukan, sebagaimana yang disampaikan
Dari sayyidah‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah bersabda :
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا
زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Artinya : “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak
berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan).
Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan
membuatnya menjadi buruk”[28].
Dari
Jarir bin Abdillah Al-Bajali dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ
Artinya : “Barangsiapa yang dijauhkan dari sifat lemah
lembut (kasih sayang), berarti dia dijauhkan dari kebaikan”[29].
Sifat
lemah lembut merupakan sifat yang sangat dicintai oleh Allah subhanahu wa
ta’ala dan begitu juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasalam. Sifat lemah lembut merupakan sebab yang bisa mendatangkan kebaikan
karena dia merupakan sebab tersebarnya kasih sayang, persatuan, dan cinta
antara kaum muslimin, apa lagi diterapkan dalam sebuah keluarga.
Sebaliknya,
sifat kasar lagi keras merupakan akhlak tercela yang dibenci oleh Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya, yang hanya mendatangkan keburukan bagi si pelakunya. Yang
pastinya dengan kelembutan kita puan akan disayang dan dihargai serta
dihormati, namun sebaliknya kekasaran akan hanya mendatangkan keburukan,
dibenci orang lain, bahkan tidak ada harganya dimata orang lain.
E ) MENGUNGKAPKAN PERASAAN
Didalam
hubungan kita baik terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan harus selalu dijaga,
kita juga harus berterus terang tentang perasaan kita terhadap kekasih.
Pengungkapan rasa cinta antara suami istri sangat berpengaruh dalam menguatkan
hubungan dalam sebuah rumah tangga, saling memperhatikan antara sesama, bagi
suami membutuhkan motivasi dari sang istri, dan si istri pun butuh perhatian
dari suami. Dengan kata lain satu sama lain, harus sama – sama mengungkapkan
rasa cinta, sehingga cinta terus bersemi didalam sebuah keluarga. Karena dengan
seiringnya waktu berjalan, bisa menimbulkan rasa bosan, hidup terasa jemu dan
hambar. Maka dari itu kita perlu bumbu penyedap dalam kehidupan dan juga
pemanasan, salah satunya adalah pengungkapan rasa cinta terhadap kekasih.
Mengungkapkan
rasa cinta tidak harus membuat kata – kata, atau puisi yang indah, nasehat yang
baik dan do’a pun bisa menjadi sebuah perwakilan dari perasaan cinta. Dan ini
juga sudah dicontohkan oleh rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
istri – istri beliau radhiyallahu ‘anhunna, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam begitu mencintai istri – istri beliau, dan juga
sebaliknya. ketika sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu
amru bin ash datang kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya
:
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ عَائِشَةُ. فَقُلْتُ مِنَ
الرِّجَالِ؟ فَقَالَ أَبُوْهَا. قُلْتُ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ عُمَرُ بْنِ
الْخَطَّابِ. فَعَدَّ رِجَالًا
Artinya : “Siapakah yang paling
engkau cintai?”, beliau berkata, “Aisyah”. Kemudian aku berkata, “Dari kalangan
lelaki?”, beliau berkata, “Ayahnya”, kemudian aku berkata, “Kemudian siapa?” ia
berkata, “Umar bin Al-Khotthob”, kemudian beliau menyebut beberapa orang”[30].
Selain itu
bukti rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam sangat mencintai aisyah radhiyallahu ‘anha,
berdo’a untuk aisyah yang berbunyi :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ ، وَمَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ "
فَضَحِكَتْ عَائِشَةُ حَتَّى سَقَطَ رَأْسُهَا فِى حِجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الضَّحِكِ ، فَقَالَ : " أَيُسُرُّكُ
دُعَائِي ؟ " فَقَالَتْ : وَمَا لِي لَا يَسُرُّنِى دُعَاؤُكَ
، فَقَالَ : " وَاللَّهِ إِنَّهَا لَدَعْوَتِي لِأُمَّتِى فِى كُلِّ صَلَاةٍ
" . قَالَ الْبَزَّارُ : لَا نَعْلَمُ رَوَاهُ إِلَّا
عَائِشَةُ
Artinya : “Ya Allah! Ampunilah dosa ‘Aisyah
yang terdahulu dan yang terkemudian, yang tersembunyi dan yang terang”.
Setelah mendengarnya,
Sayyidah ‘Aisyah ketawa kegembiraan sehingga
kepalanya jatuh kepangkuan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam kerana terlalu gembira.
Lalu Rasulullah
saw bertanya : Apakah doaku menggembirakanmu?
Sayyidah
‘Aisyah menjawab : Kenapa
tidak, aku begitu gembira dengan doamu itu.
Lalu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Demi
Allah! Inilah doa yang aku panjatkan untuk umatku dalam setiap sholat[31].
Tidak kalah
juga, sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, juga begitu besar cintanya kepada
raslullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Pada suatu hari rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mendatangi sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan berkata
: sesungguhnya aku mau mengutarakan sesuatu kepadamu, dan kuharap kamu tidak
akan tergesa –gesa dalam memutuskannya sampai kamu bermusyawarah kepada orang
tuamu. Kemudian sayyidah ‘Aisyah radhiyallau ‘anha bertanya : “apakah itu,,”?
kemudian rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam membaca ayat suci Al – qur’an yang berbunyi :
يأَيُّهَا النَّبِىُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ
الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ
سَرَاحاً جَمِيلًا - وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْاٌّخِرَةَ
فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَـتِ مِنْكُنَّ أَجْراً عَظِيماً
Artinya : “Hai Nabi, katakanlah
kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan
perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah[32]
dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28). Dan jika kamu sekalian
menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya
Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar
(29). (QS. Al ahzab : 28-29)
Dan Aisyah menjawab “Apakah soal
yang berhubungan dengan engkau mesti kumusyawarahkan dengan Ibu Bapakku ?
Sedangkan kedua orang tuaku tidak menyuruh untuk berpisah denganmu, akan
tetapi aku sudah menetapkan pilihanku
yaitu Aku memilih Allah dan RasulNya serta hari akhir”, Betapa bahagianya
rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam setelah mendengar jawaban sayyidah ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha” [33].
Diriwayat yang lain :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنَ الْعَصْرِدَخَلَ عَلَى نِسَائِهِ
فَيَدْنُوْ مِنْ إِحْدَاهُنَّ فَدَخَلَ عَلَى حَفْصَةَ رضي الله عنها فَاحْتَبَسَ
أَكْثَرَ مَا كَانَ يَحْتَبِسُ فَغِرْتُ فَسَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ فَقِيْلَ لِي
أَهْدَتْ لَهَا امْرَأَةٌ مِنْ قَوْمِهَا عُكَّةَ مِنْ عَسَلٍ فَسَقَتِ النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ شَرْبَةً فَقُلْتُ أَمَا وَاللهِ
لَنَحْتَالَنَّ لَهُ
Artinya : “Dari
Aisyah radhiyallau ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
jika selesai sholat ashar maka beliau masuk menemui istri-istrinya lalu mencium
dan mencumbui salah seorang di antara mereka. Maka (pada suatu hari) beliau
masuk menemui Hafshoh putri Umar (bin Al-Khotthob) lalu beliau berlama-lamaan
di tempat tinggal Hafshoh, maka akupun cemburu. Lalu aku menanyakan sebab hal
itu maka dikatakan kepadaku bahwasanya seorang wanita dari kaum Hafshoh
menghadiahkan kepadanya sebelanga madu, maka ia (Hafshoh)pun meminumkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari madu tersebut. Aku (Aisyah)pun berkata,
“Demi Allah aku akan membuat hilah (semacam sandiwara) dengan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam”[34].
Inilah salah
satu contoh yang patut kita tiru. Perhiasan, harta, kedudukan bukanlah sebuah
jaminan untuk hidup bahagia, tapi keberadaan dan kesetiaan kekasih serta wujud
kasih sayang yang tulus lah akan membuat kita senang dan bahagia, sehingga bisa
menjalani hidup dengan penuh senyuman. Banyak orang kaya yang kehidupan
keluarganya penuh masalah, kerja diutamakan sehingga istri anak ditelantarkan,
hidup tanpa kasih sayang, yang ada hanyalah keegoesan, pertengkaran dan
kekerasan. Sepatutnyalah harus diketahui, jalan kehidupan tidak selamanya
lurus, cuaca tidak selamanya cerah, ada saatnya kita harus melewati tikungan
untuk sampai tujuan, dan ada saatnya pula kita harus kehujanan untuk melihat
indahnya pelangi.
Dalam
mengungkapkan perasaan kita juga harus mempunyai cara tertentu, agar dapat
mempengaruhi perasaan kekasih kita, sehingga bisa meluluhkan perasaannya dan
bertambahlah cinta dan kasihnya, diantara caranya adalah sebagai berikut :
ü Bersikap lembut dan berilah senyuman manis kepadanya,
ü Gunakanlah kata – kata indah dan menarik perhatian,
ü Hubungilah kekasih semasa kesibukan, kemudian ungkapkanlah perasaan
cinta,
ü Jagalah perasaan kekasih dan bantulah masalahnya sebisa kita.
ü Pujilah dia dihadapan keluarganya,
ü Ciumlah kekasih sebelum pergi bekerja.
F ) MENJAGA RAHASIA RUMAH TANGGA
Keharmonisan
rumah tangga adalah sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dibayar dengan uang,
tidak bisa diganti perhiasan ataupun kedudukan untuk menjaga kebaikan dalam suatu keluarga,
adalah Salah satu unsur yang dapat menjaga keharmonisan dan keutuhan suami
istri yaitu dengan menjaga rahasia rumah tangga. Ya, rumah tangga juga punya
rahasia yang harus dijaga dan disimpan, tidak boleh dibeberkan atau disebarkan
ke orang lain, khususnya yang berkaitan dengan hubungan diranjang, ataupun aib
sang kekasih dan lain – lain yang berhubungan dengan pasangan hidup atau anak
sendiri, sehingga membahayakan keluarga ataupun salah satu diantara keluarga
tersebut.
Rahasia adalah amanah dan perkara yang harus
disimpan yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia
adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga
rahasia adalah sebuah kewajiban bagi setiap indvidu, karena rahasia termasuk
janji yang harus ditunaikan dan dipertanggung jawabkan. Allah berfirman :
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ
مَسْؤُولًا
Artinya : “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji
itu akan ditanyakan”. (Al Isra’: 34)
Terkadang suami
menceritakan rahasia pribadinya kepada istri. Sebaliknya, istri menceritakan
rahasia pribadinya kepada suami. Ini tidak apa apa, yaitu sebagai perwujudan
kedekatan perasaan cinta dan kejiwaan mereka. Dan tentunya masing-masing mereka
tentu tidak suka bila rahasia pribadi itu diketahui orang lain, selain kekasih
mereka sendiri.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِى يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: “إِنّ مِنْ
أَشَرِّ النّاسِ عِنْدَ اللّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ, الرّجُلَ يُفْضِى
إِلَى امْرَأَتِهِ, وَتُفْضِى إِلَيْهِ, ثُمّ يَنْشُرُ سِرّهَا”.
Artinya
: “Dari Abu Sa’id al-Khudriy, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa
Sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di Hari
Kiamat, adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan
isterinya, kemudian membeberkan rahasia (isteri)-nya tersebut”[35].
Dari sini “Termasuk orang yang paling
jelek di sisi Allah kedudukannya pada hari kiamat yaitu lelaki yang menggauli
seorang wanita dan wanita itu menggaulinya,” maksud dengan hal itu
adalah ketika suami menggauli istrinya, kemudian dia menyebarkan rahasia
istrinya itu, atau si istri juga menyebarkan rahasia suaminya. Dan Lelaki itu
seraya berkata: “Aku melakukan dengan istriku tadi malam seperti ini dan aku
melakukannya seperti ini pula”. sehingga orang yang tidak seharusnya mengetahui
kejadian tersebut dalam rumah tangganya itu bisa mengatahuinya, seakan orang
itu berada antara suami istri itu di ranjang atau membayang – bayangkan sesuatu
yang tidak sepantasnya. Si suami memberitahu orang itu dengan sesuatu rahasia
yang padahal istrinya tidak suka untuk diketahui oleh orang lain.
Sama saja ketika si istri melakukan yang sama,
dia menceritakan kepada para wanita bahwa suaminya melakukan yang sedemikian
rupa dengan dia. Semua ini haram tidak dibolehkan oleh agama. Dan dia termasuk
orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala pada
hari kiamat, yang sebagaimana sudah diterangkan dalam hadist diatas.
Sebuah kewajiban untuk disimpan, apabila ada
timbul suatu permasalahan yang berkaitan dengan rumah tangga ataupun di ranjang
dan di selainnya yang ketika itu berkaitan dengan aib keluarga, maka hendaklah
agar disembunyikan dan dijaga kerahasiaanya, agar tidak diketahui oleh
siapapun. Karena sesungguhnya barangsiapa yang menjaga rahasia saudaranya,
Allah juga akan menjaga rahasianya. Dan memberikan balasan itu sesuai dengan
perbuatan apa yang telah dilakukannya. Ada sebuah hadist yang berbunyi sebagai
berikut :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَى عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَنَا أَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ . قَالَ: فَسَلَّمَ عَلَيْنَا، فَبَعَثَنِي إِلَى
حَاجَةٍ. فَأَبْطَأْتُ عَلَى أُمِّى . فَلَمَّا جِئْتُ قَالَتْ: مَا حَبَسَكَ ؟ قُلْتُ:
بَعَثَنِى
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَةٍ. قَالَتْ: مَا
حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ: إِنَّهَا سِرٌّ. قَالَتْ: لَا
تُحَدِّثَنَّ بِسِرِّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا .
قَالَ أَنَسٌ : وَ اللهِ
! لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أَحَدًا لَحَدَّثْتُكَ , يَا ثَابِتُ !
Artinya : “Dari
Anas radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangiku ketika aku sedang
bermain-main dengan anak-anak yang lain. Beliau memberi salam kepada kami, lalu
menyuruhku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat pulang kepada ibuku.
Ketika aku datang, ibuku bertanya, “Apa yang membuatmu terlambat?” “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk suatu keperluan,” jawabku. “Apa
keperluannya?” tanya ibuku. Aku menjawab, “Itu rahasia.” Ibuku pun mengatakan,
“Kalau demikian, jangan kau beritahukan rahasia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam kepada siapa pun! ”
Kemudian Anas
r.a, berkata kepada Tsabit r.a: “Kalau aku memberitahukan kepada seseorang
tentang rahasia itu, sungguh aku akan mengabarimu”[36].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu ‘anhu menjelaskan, sebagian
ulama mengatakan bahwa sepertinya rahasia itu khusus berkenaan dengan
istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya rahasia itu berupa
ilmu tentu tidak ada celah bagi Anas radhiyallahu ‘anhu untuk
menyembunyikannya. Al-Hafizh
rahimahullahu juga menukilkan penjelasan Ibnu Baththal rahimahullahu bahwa
pendapat yang dipegangi oleh ahlul ilmi, rahasia tidak boleh disembunyikan bila
mengandung bahaya bagi pemiliknya. Sebagian besar dari mereka berpendapat bila
pemilik rahasia itu meninggal, maka tidak harus disembunyikan rahasianya
sebagaimana yang harus dilakukan semasa hidupnya, kecuali bila berakibat
merendahkan martabatnya[37].
Dalam hadits
ini ada banyak faedah:
Pertama: Baiknya
akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketawadhuannya yang
sangat mulia. Dengan kemuliaan dan kedudukan serta martabat beliau di sisi
Allah dan di sisi makhluk, beliau tawadhu’ sampai memberi salam kepada
anak-anak pada saat mereka bermain-main di pasar.
Kedua: Disunnahkan
seseorang agar memberi salam pada orang yang dilewati, meskipun anak-anak.
Karena salam adalah sebuah doa yang dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa
ta’ala untuk kebaikan kepada saudara seiman. Karena arti dari kalimat “السلام عليك (Semoga
keselamatan atasmu).” Dan arti dari balasannya pun juga do’a kepada Allah
subhanahu wa ta’ala, yaitu : “و عليك السلام
(dan semoga atasmu keselamatan). Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
” يأيُّهاَ
الَّذِيْنَ امَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتاً غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتَّى
تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلَى أهْلِهاَ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki
rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada
penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”.
(An-nur : 27)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَ الْمَارُّ
عَلَى الْقَاعِدِ, وَ الْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ. وَفِى رِوَايَةٍ : وَ الرَّاكِبُ
عَلَى الْمَاشِى.
Artinya : “Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Hendaklah yang
muda memulai memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk
dan yang sedikit kepada yang lebih banyak..” Dan dalam suatu riwayat:
“dan yang bertunggangan (berkenderaan) kepada yang berjalan”[38].
Membiasakan
anak – anak dengan tarbiyah (pengajaran) yang baik, hingga mereka tumbuh dan
hidup berkembang, dengan demikian insya Allah akan mendapatkan pahala dalam disetiap
perkara yang mereka lakukan dari hasil didikan tersebut.
Ketiga: Bolehnya
meminta bantuan kepada anak kecil dengan sebuah kebutuhan dengan syarat anak
kecil itu bisa dipercaya. Sedangkan jika dia tidak bisa dipercaya dan anak
kecil itu banyak bermain dan tidak peduli dengan kebutuhan-kebutuhan, maka
lebih baik untuk mencari yang lain, yang bisa dapat dipercaya.
Keempat: Tidak boleh
seseorang untuk menampakkan rahasia seseorang walaupun kepada ibu dan bapaknya.
Kelima: baiknya
pengajaran seorang ibu kepada anaknya, ketika ibu anas berkata: “Engkau
janganlah memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dia
mengatakan demikian kepada Anas, padahal Anas tidak memberitahukan kepada
ibunya dan tidak mengabarkan kepada selain ibunya, tetapi tujuan sang ibu
adalah sebagai penguatan dan pengokohan untuk Anas dan memberikan alasan untuk
Anas, karena Anas tidak mau memberitahu ibunya tentang rahasia Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya berkata: “Engkau janganlah
memberitahukannya kepada seorangpun.” Seakan dia berkata: “Aku menyepakatimu atas
hal ini, maka simpanlah rahasia itu!”.
Keenam: Menampakkan
kecintaan Anas kepada Tsabit, karena Tsabit selalu menyertainya. Demikian juga
sepantasnya kecintaan itu ada antara para suami dengan istri atau para istri
kepada suami mereka.
Maka jagalah rahasia rumah tangga
dan insya Allah akan terjaga pula keharmonisan rumah tangga, menguatnya rasa
cinta dengan saling menghargai dan saling menjaga amanah, menyimpan apa yang
seharusnya disimpan, dan menjaga apa yang seharusnya dijaga, karena itu adalah
rahasia serta amanah.
G ) PUJIAN
Dibalik
pujian antara pasangan suami istri terdapat sesuatu hikmah, yaitu diantaranya
adalah menguatkan hubungan perasaan cinta dan kasih sayang. Dan memang sudah
jadi fitrah manusia yang suka akan pujian, apa lagi yang memuji adalah seorang
yang dicintai, sungguh indah dirasakan dan bahkan akan jadi sebuah kerinduan
untuk dipuji dan memuji dari seorang kekasih. Disaat kekasih melakukan atau
berkorban untuk yang dia sayangi, maka sewajarnyalah bagi yang disayang untuk
memberikan pujian dan penghargaan akan usahanya, karena pujian dan penghargaan
dari kekasih lebih diharapkan darinya, yang membuat dia akan bahagia serta
bersyukur atas usahanya. Bagi yang memuji pun juga harus bisa membuat
termotivasi akan hal usaha yang dilakukannya dalam kebaikan, bisa menenangkan
hatinya akan pujian sebagai penghargaan yang diberikan, sehingga merasa bahwa
dia sangatlah dicintai oleh kekasihnya. Sebagaimana yang dilakukan rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, ketika memuji sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (istri
rasul) dengan menyebutnya “humaira” yang artinya “ putih kemerah – merahan”
karena kecantikannya[39].
Panggilan untuk kekasih
seharusnyalah dalam bentuk pujian atau yang membuat dia senang dalam arti yang
baik, baik itu dengan cara yang manja atau pun yang lainnya dengan kata – kata
manis lagi baik. Ada juga ucapan dari wanita (istri) yang bisa membuat laki –
laki (suami) bahagia, dengan perkataannya yang indah bisa membuat suami
bertekuk lutut untuk selalu mencintai si sitri, yaitu diantaranya adalah :
Mengungkapkan kebanggan dari istri terhadap
sang suami, akan membuat sang suami merasa menjadi seseorang yang begitu
berharga, bahagia, dan juga dapat membangkitkan kepercayaan didalam dirinya.
kalimat inilah yang membuat suami tambah sayang
kepada si istri, maka jangan bosan – bosanlah untuk mengatakan cinta kepada
kekasih, agar bertambahnya rasa cinta dan kasih sayang diantara pasangan suami
istri.
Kata terima kasih yang tulus akan membuat para
pria memiliki nilai yang plus dan lebih. Karena dia bisa membuat sang istri
senang dan bahagia, sehingga bisa bersyukur. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
فَاذْكُرُوْا نِى أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْا لِى وَ لاَ تَكْفُرُوْنَ
Artinya : “Karena itu, ingatlah kamu
kepadaku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu[40],
dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-ku”.(QS.
Al – baqarah : 152)
Pria kadang pernah merasa gagal. Saat ini yang
ia butuhkan adalah ucapan yang membuatnya merasa dihargai sehingga bisa
termotivasi untuk bisa berbuat lebih baik dari sebelumnya. Hargailah atas semua
usaha yang telah ia lakukan, dan janganlah melihat hasil tapi perhatikanlah
proses dari hasil tersebut.
pengungkapan kalimat diatas adalah salah satu
pembuktian bahwa sang suami adalah orang
yang paling unggul dan utama dihadapan mata seorang istri.
Sebagai suami yang memang menjadi pemimpin
rumah tangga akan merasa dibutuhkan dan berguna akan keberadaan dia sebagai pemimpin
dirumah tangga, pelindung, penyelamat, sebagai tempat sandaran curhat, dan yang
lainnya, sehingga merasa dialah sebagai pahlawan.
Istri butuh
pujian dan penghargaan dari suami, begitu juga suami membutuhkannya. Karena
pujian adalah salah satu bumbu rasa dalam keluarga, agar kehidupan terasa indah
dan manis. Dan sebelum mengakhiri permasalah ini, rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam juga pernah memuji istrinya sayyidah Zainab radhiyallahu ‘anha yang
disampaikan oleh syayidah ‘Aisya radhiyallahu ‘anha, yang berbunyi :
حَدَّثَنَا
مَحْمُوْدُ بْنُ غَيْلاَنَ أَبُوْ أَحْمَدَ . حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مٌوْسَى
السِّيْنَانِى . أَخْبَرَنَا طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ
عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ : "قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : " أَسْرَعُكُنَّ لَحَاقًا بِى , أَطْوَلُكُنَّ
يَدًا ".
قَالَتْ : فَكُنَّ
يَتَطَاوَلْنَا أَيَّتُهُنَّ أَطْوَلُ يّدًا.
قَالَتْ : فَكَانَتْ
أَطْوَلَنَا يَدًا زَيْنَبُ . لِأَنَّهَا كَانَتْ تَعْمَلُ بِيَدِهَا وَ تَصَدَّقُ
.
Artinya : “Mahmud ibn Ghailan Abu Ahmad
telah menceritakan kepada kami, al-Fadhl ibnu Musa As - Sinani menceritakan
kepada kami, Thalhah mengkhabarkan kepada kami, dari ‘Aisyah dia menyatakan : “
rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Yang paling cepat menyusulku
di antara kalian sepeniggalku adalah yang paling panjang tangannya”.
‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha berkata : mereka saling mengukur, siapa di antara mereka
tangannya yang paling panjang.
Dan sayyidah
‘aisyah berkata lagi : yang paling panjang tangannya adalah zainab radhiyallahu
‘anha Karena beliau bekerja dengan tangannya sendiri dan bersedekah[41].
Padahal, Rasulullah tidak bermaksud seperti
yang mereka kira(paling panjang tangannya). Tetapi yang beliau maksud adalah
yang paling baik dan dermawan. Hal itu sesuai dengan fakta dikemudian hari bahwa
Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha meninggal lebih dahulu[42].
Ia dikenal dengan wanita yang sangat terampil, baik, mulia, ramah terhadap
fakir miskin, dan suka bersedekah[43].
H ) BERDIAM YANG BAIK
Sesungguhnya
berdiam yang baik adalah salah satu pembuktian rasa hormat kepada kekasih,
pemahaman, dan rasa cinta antara satu sama lainnya, sehingga dengan demikian
mendalamlah rasa cintanya. Ada waktu tertentu yang membutuhkan diam dengan
memperhatikan yang baik, terkhususkan ketika kekasih berbicara. Maka
perhatikanlah disaat ia bicara, janganlah juga memotong pembicaraanya serta
berikanlah respon yang baik terhadapnya. Sebagaimana yang telah dilakukan
rasulullah kepada istri beliau Sayyidah ‘Aisyah dengan mendengarkan penuh
seksama cerita Sayyidah ‘Aisyah yang dikenal dengan hadist ummu zar’in yang
disampaikan atau dikisahkan oleh sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : جَلَسَ إِحْدَى
عَشْرَةَ إِمْرَأَةً , فَتَعَاهَدْنَ وَ تَعَاقَدْنَ أَنْ لَا يَكْتُمْنَ مِنْ
أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا
قَالَتِ الْأُوْلَى : زَوْجِى لَحْمُ جَمَلٍ
غَثٍّ , عَلَى رَأْسِ جَبَلٍ , لَا سَهْلٍ فَيُرْتَقَى , وَ لَا سَمِيْنٍ
فَيُنْتَقَلُ ,
قَالَتِ الثَّانِيَةُ : زَوْجِى لَا أَبُثُّ
خَبَرَهُ , إِنِّى أَخَافُ أَنْ لَا أَذَرَهُ , إِنْ أَذْكُرْهُ أَذْكُرْ عُجَرَهُ
وَ بُجَرَهُ ,
قَالَتِ الثَّالِثَةُ : زَوْجِى الْعَشَنَّقُ ,
إِنْ أَنْطِقْ أُطَلَّقْ , وَ إِنْ أَسْكُتْ أُعَلَّقْ ,
قَالَتِ الرَّابِعَةُ : زَوْجِى كَلَيْلِ
تِهَامَةَ , لَا حَرٌّ وَ لَا قُرٌّ , وَ لَا مَخَافَةَ وَ لَا سَآمَةَ ,
قَالَتِ الْخَامِسَةُ : زَوْجِى إِنْ دَخَلَ
فَهِدَ , وَ إِنْ خَرَجَ أَسِدَ , وَ لَا يَسْأَلُ عَمَّا عَهِدَ ,
قَالَتِ السَّادِسَةُ : زَوْجِى إِنْ أَكَلَ
لَفَّ , وَ إِنْ شَرِبَ اشْتَفَّ , وَ إِنْ اضْطَجَعَ الْتَفَّ , وَ لَا يُوْلِجُ
الْكَفَّ لِيَعْلَمَ الْبَثَّ ,
قَالَتِ السَّابِعَةُ : زَوْجِى غَيَايَاءُ
أَوْ عَيَايَاءُ طَبَاقَاءُ , كُلُّ دَاءٍ لَهُ دَاءٌ , شَجَّكِ أَوْ فَلَّكِ أَوْ
جَمَعَ كُلَا لِكَ ,
قَالَتِ الثَّامِنَةُ : زَوْجِى الْمَسُّ
مَسُّ أَرْنَبٍ , وَ الرِّيْحُ رِيْحُ زَرْنَبٍ ,
قَالَتِ التَّاسِعَةُ : زَوْجِى رَفِيْعُ
الْعِمَادِ , طَوِيْلُ النِّجَادِ , عَظِيْمُ الرِّمَادِ , قَرِيْبُ الْبَيْتِ
مِنَ النَّادِ ,
قّالَتِ الْعَاشِرَةُ : زَوْجِى مَالِكٌ , وَ
مَا مَالِكٌ ؟ مَالِكٌ خَيْرٌ مِنْ ذَالِكَ , لَهُ إِبِلٌ كَثِيْرَاةُ الْمُبَارِكِ
, قَلِيْلَةُ الْمَسَارِحِ , وَ إِذَا سَمِعْنَ صَوْتَ الْمَزْهَرِ أَيْقَنَّ
أَنَهُنَّ هَوَالِكُ ,
قَالَتِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ : زَوْجِى
أَبُوْ زَرْعٍ فَمَا أَبُو زَرْعٍ ؟ أَنَاسَ مِنْ حُلِيٍّ أُذُنَيَّ , وَ مَلَأَ
مِنْ شَحْمٍ عَضُدَيَّ , وَ بَجَّحَنِى فَبَجِحَتْ إِلَيَّ نَفْسِى , وَجَدَنِى
فِى أَهْلِ غُنَيْمَةٍ بِشِقٍّ , فَجَعَلَنِى مِنْ أَهْلِ صَهِيْلٍ وَ أَطِيْطٍ ,
وَ دَائِسٍ وَ مُنَقٍّ , فَعِنْدَهُ أَقُوْلُ فَلَا أُقَبِّحُ , وَ أَرْقُدُ
فَأَتَصَبَّحُ , وَ أَشْرَبُ فَأَتَقَنَّحُ , أُمُّ أَبِى زَرْعٍ , فَمَا أُمُّ
أَبِى زَرْعٍ ؟ عُكُوْمُهَا رَدَاحٌ , وَ بَيْتُهَا فَسَاحٌ , ابْنُ أَبِى زَرْعٍ
, فَمَا ابْنُ أَبِى زَرْعٍ ؟ مَضْجَعُهُ كَمَسَلِّ شَطْبَةٍ , وَ يُشْبِعُهُ
ذِرَاعُ الْجَفْرَةِ , بِنْتُ أَبِى زَرْعٍ , فَمَا بِنْتُ أَبِى زَرْعٍ ؟ طَوْعُ أَبِيْهَا
, وَ طَوْعُ أُمِّهَا وَ مِلْءُ , كِسَائِهَا , وَ غَيْظُ جَارَتِهَا , جَارِيَةُ
أَبِى زَرْعٍ , فَمَا جَارِيَةُ أَبِى زَرْعٍ ؟ لَا تَبُثُّ حَدِيْثَنَا
تَبْثِيْثٍا , وَ لَا تُنَقِّثُ مِيْرَتَنَا تَنْقِيْثًا , وَ لَا تَمْلَأُ
بَيْتَنَا تَعْشِيْشًا قَالَتْ : خَرَجَ أَبُوْ زَرْعٍ وَ الْأَوْطَابُ تُمْخَضُ ,
فَلَقِيَ امْرَأَةً مَعَهَا وَلَدَانِ لَهَا كَالْفَهْدَيْنِ يَلْعَبَانِ مِنْ
تَحْتِ خَصْرِهَا بِرُمَّانَتَيْنِ فَطَلَّقَنِى وَ نَكَحَهَا , فَنَكَحْتُ
بَعْدَهُ رَجُلًا سَرِيًّا , رَكِبَ شَرِيًّا , وَ أَخَذَ خَطِّيًّا , وَ أَرَاحَ
عَلَيَّ نَعَمًا ثَرِيًّا , وَ أَعْطَانِى مِنْ كُلِّ رَائِحَةٍ زَوْجًا , وَ
قَالَ : كُلِى أُمَّ زَرْعٍ , وَ مِيْرِى أَهْلَكِ قَالَتْ : فَلَوْ جَمَعْتُ
كُلَّ شَيْءٍ أَعْطَانِيْهِ مَا بَلَغَ أَصْغَرَ آنِيَةٍ أَبِى زَرْعٍ قَالَتْ عَائِشَةَ
: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : " كُنْتُ لَكِ
كَأَبِى زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ
Artinya : “ dari ‘Aisyah berkata
: Ada sebelas orang wanita duduk berkumpul, mereka sepakat untuk menceritakan
sifat dan keadaan suami-suami mereka. Mereka pun saling berjanji untuk tidak
menyembunyikan sedikitpun keadaan suami mereka.
Wanita
yang pertama berkata: “Suamiku ibarat daging unta yang kurus kering
di atas puncak gunung yang tidak mudah didaki. Sementara daging itu sendiri
tidaklah gemuk di mana dapat mengundang hasrat untuk memindahkannya”.
Wanita
kedua berkata: “Tidak akan kusebarkan berita suamiku karena
bila kuceritakan tentangnya, aku khawatir aku akan terus berbicara tanpa
meninggalkan satu pun dari cerita tentang dirinya. Bila aku mengingatnya, yang
aku ingat adalah urat yang menggembung dan tampak pada wajah, tubuh, dan
perutnya”.
Wanita
ketiga berkata: “Suamiku terlalu tinggi. Bila aku bicara
(mendebatnya dalam satu perkara atau menceritakan celanya) ia akan mentalakku
dan bila aku diam (bersabar dengan keadaanku) aku dibiarkannya tergantung
(seperti wanita yang tidak memiliki suami namun tidak pula menjanda)”.
Wanita
keempat berkata: “Suamiku seperti malam di Tihamah[44],
tidak panas, tidak pula sangat dingin, tidak menakutkan dan tidak pula
menjemukan”.
Wanita
kelima berkata: “Suamiku, bila masuk rumah seperti macan
kumbang, bila keluar rumah seperti singa, dan ia tidak pernah bertanya tentang
apa yang diberikan dan diamanahkannya”.
Wanita
yang keenam berkata: “Suamiku bila makan banyak dan menyantap semua
hidangan tanpa menyisakan. Bila minum sampai habis, bila berbaring ia
berselimut sendirian (menjauh dari istrinya), dan ia tidak pernah memasukkan
telapak tangannya untuk mengetahui kesedihanku (guna berupaya menghilangkannya)”.
Wanita
yang ketujuh berkata: “Suamiku dungu –atau tidak mampu menggauli
wanita (impoten)– sangat keterlaluan dungunya. Semua penyakit (cacat/ cela) ada
padanya. Bila engkau mengajaknya bicara ia akan melukai kepala atau badanmu,
atau melukai kepala dan badanmu sekaligus”.
Wanita
yang kedelapan berkata: “Suamiku usapan dan sentuhannya seperti
sentuhan kelinci dan wanginya seperti wangi zarnab (sejenis tumbuhan yang
semerbak baunya)”.
Wanita
yang kesembilan berkata: “Suamiku, rumahnya tinggi (seperti rumah para
tokoh/ pembesar sehingga selalu dituju para tamu), dia menyandang pedang yang
panjang (karena posturnya yang tinggi), banyak debunya[45]
dan rumahnya dekat dengan tempat pertemuan”.
Wanita
yang kesepuluh berkata: “Suamiku Malik. Siapakah Malik. Alangkah agung
dan mulianya dia. Malik lebih baik daripada mereka semua (para suami yang telah
diceritakan keadaannya/ sifatnya). Ia memiliki unta yang banyak yang menderum
di pekarangannya dan ada sedikit yang digembalakan. Bila unta-unta ini
mendengar suara mizhar (alat yang dibunyikan untuk menyambut tamu) mereka pun
yakin bahwa mereka akan mati (disembelih sebagai jamuan untuk tamu)”.
Wanita
yang kesebelas berkata: “Suamiku Abu Zar’in. Siapakah Abu Zar’in. Dia
menggerakkan kedua telingaku dengan perhiasan. Dia penuhi kedua lenganku
(beserta seluruh tubuhku) dengan lemak (gemuk). Dia memuliakanku hingga aku
merasa diriku begitu mulia hingga aku berbangga diri. Dia mendapati aku hidup
dengan keluargaku (yang fakir) dengan hanya memiliki sedikit kambing yang kami
gembalakan di tepi gunung. Lalu (setelah menikahiku) ia menjadikan aku hidup
dalam kemewahan memiliki kuda dan unta, sawah ladang, dan selainnya. Di sisinya
aku berbicara tanpa pernah dijelek-jelekkan dan dibantah. Aku tidur di pagi
hari tanpa ada yang membangunkan (karena semua pekerjaan telah ditangani oleh
para pembantu). Aku pun minum sampai puas.
Ibu Abu
Zar’in, siapakah ibu Abu Zar’in. Tempat perabot dan perlengkapannya besar lagi
penuh, rumahnya pun luas. Putra Abu Zar’in, siapakah putra Abu Zar’in. Tempat
berbaringnya seperti tikar anyaman dari pelepah kurma dan mengenyangkannya
dzira’ (bagian hasta) kambing (betina berusia 4 bulan)”. Putri Abu Zar’in,
siapakah putri Abu Zar’in. Dia taat/ berbakti kepada ayah dan ibunya, sempurna
tubuhnya (atau gemuk berisi) dan membuat marah madunya (karena iri melihat
kelebihannya)”.
Budak perempuan Abu Zar’in, siapakah budak perempuannya Abu Zar’in. Dia tidak menyebarkan pembicaraan kami, tidak berkhianat dalam mengurusi makanan kami, dan tidak memenuhi rumah kami dengan ranting/ sampah”.
Budak perempuan Abu Zar’in, siapakah budak perempuannya Abu Zar’in. Dia tidak menyebarkan pembicaraan kami, tidak berkhianat dalam mengurusi makanan kami, dan tidak memenuhi rumah kami dengan ranting/ sampah”.
Ummu
Zar’in melanjutkan kisahnya: “(Suatu hari) Abu Zar’in keluar dari rumah di saat
susu-susu dalam periuk dan bejana diolah untuk diambil saripatinya. Lalu ia
berjumpa dengan seorang wanita bersama dua anak laki-lakinya yang laksana dua
ekor macan. Keduanya asyik bermain dengan dua delima (yang dilemparkan) dari
bawah pinggang si wanita[46].
Abu Zar’in pun mentalakku dan menikahi wanita itu. Setelah bercerai dengannya,
aku menikah dengan seorang lelaki yang bagus bentuk dan penampilannya. Ia
menunggangi kuda yang bagus lagi pilihan yang berjalan tanpa merasa letih. Ia
memegang tombak dari negeri Khath (untuk berperang). Ia mendatangkan ke kandang
ternak harta yang banyak (berupa unta dan selainnya) untukku[47].
Dan ia memberiku sepasang dari setiap yang berlalu[48].
Ia berkata : “Makanlah wahai Ummu Zar’in dan berilah makanan itu kepada
keluargamu”.
Ummu
Zar’in berkata: “Seandainya aku kumpulkan segala sesuatu yang diberikannya
kepadaku niscaya tidak mencapai bejana Abu Zar’in yang paling kecil sekalipun”.
Setelah
selesai cerita yang disampaikan sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, rasullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :“Aku bagimu seperti Abu Zar’in bagi
Ummu Zar’in”[49].
Dan
disuatu riwayat ada tambahan dari zubair : “Hanya saja Abu Zar’in akhirnya mentalak
Ummu Zar’in sedangkan aku (Rasulullah) tidak mentalakmu”. Kemudian ditambahkan
oleh An – nasa’i dan At – thabroni, “ ‘Aisyah berkata : wahai rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahkan engkau lebih baik dari abi zar’in”[50]. Dari
hadist ini terdapat golongan – golongan suami yang beraneka ragam tertentu
yaitu :
Golongan
pertama : ini menggambarkan sedikitnya kebaikan pada
diri seorang suami. Tubuhnya kurus dan lemah, juga memiliki akhlak yang buruk,
sombong, takabbur, suka mengangkat dirinya lebih dari kadarnya[51].
Golongan
kedua : ini mengisyaratkan banyaknya aib pada diri
suaminya. Namun ia tidak ingin membahasnya, karena jika dibicarakan akan
panjang dan tidak akan ada selesainya.
Golongan
ketiga : ini memunjukkan Suami yang terlalu tinggi tanpa
ada manfaat. Bila aku bicara menceritakan aibnya ia akan mentalakku, dan bila
aku diam bersabar dengan keadaanku aku dibiarkannya tergantung seperti wanita
yang tidak memiliki suami namun tidak pula menjanda.
Golongan
keempat : ini menggambarkan bagusnya pergaulan seorang
suami, pertengahan keadaannya dan selamat batinnya, tidak adanya kekerasan
sehingga ia merasakan nikmatnya hidup di sisi suaminya tanpa ada kekhawatiran
dan ketakutan, bahkan merasakan kenikmatan hidup.
Golongan
kelima : Sifat yang disebutkan oleh si wanita tentang
suami mengandung dua kemungkinan, bisa jadi pujian dan bisa jadi celaan.
dari sisi pujian mensifati suaminya sebagai macan kumbang karena ketika masuk rumah mesti menerjangnya (menggaulinya), yang menunjukkan ia dicintai oleh si suami di mana suaminya mesti tidak sabar bila melihatnya. Adapun di tengah manusia dia pemberani seperti singa. Ia memberikan nafkah kepada keluarganya, baik makanan, minuman dan pakaian, tanpa pernah bertanya tentang pemberiannya setelah itu. Ia selalu berlapang hati dan memaafkan kekurangan yang didapati dari istrinya.
Atau si wanita memaksudkan dengan ungkapannya tersebut untuk menggambarkan sifat jelek suaminya, di mana si suami tidak pernah melakukan ‘pendahuluan’ sebelum jima’ tapi langsung menerjang. Jelek akhlaknya, suka memukul istri dan tidak peduli dengan keadaan istri dan anak-anaknya.
dari sisi pujian mensifati suaminya sebagai macan kumbang karena ketika masuk rumah mesti menerjangnya (menggaulinya), yang menunjukkan ia dicintai oleh si suami di mana suaminya mesti tidak sabar bila melihatnya. Adapun di tengah manusia dia pemberani seperti singa. Ia memberikan nafkah kepada keluarganya, baik makanan, minuman dan pakaian, tanpa pernah bertanya tentang pemberiannya setelah itu. Ia selalu berlapang hati dan memaafkan kekurangan yang didapati dari istrinya.
Atau si wanita memaksudkan dengan ungkapannya tersebut untuk menggambarkan sifat jelek suaminya, di mana si suami tidak pernah melakukan ‘pendahuluan’ sebelum jima’ tapi langsung menerjang. Jelek akhlaknya, suka memukul istri dan tidak peduli dengan keadaan istri dan anak-anaknya.
Golongan
keenam : Wanita ini mensifati suaminya dengan sifat
yang tercela bagi seorang lelaki yaitu banyak makan dan minum, acuh atau tidak
perduli akan keadaan keluarga dan istri, serta sedikit menggauli istri.
Golongan
ketujuh :Maksudnya adalah suami yang suka menganiaya
istrinya, bila membantahnya dalam satu perkara atau pun mencandainya, ia akan
memukul kepalaku hingga luka atau tubuhku hingga berdarah atau ia lakukan
kedua-duanya.
Golongan
kedelapan : Wanita ini menggambarkan indahnya sifat
suaminya, bagus dan mulia akhlaknya, baik pergaulannya, lembut budi pekertinya,
selalu rapi, bersih dan wangi.
Golongan
kesembilan : Wanita ini mensifati suaminya sebagai seorang
tokoh yang mulia dan dermawan, berakhlak baik dan baik pergaulannya.
Golongan
kesepuluh : Wanita ini mensifati suaminya yang agung dan
mulia, Karena banyaknya memiliki onta yang dipersiapkan untuk disembelih guna
memuliakan tamu.
Golongan
kesebelas : Ummu Zar’in menggambarkan bagaimana ketokohan/
kepemimpinan suaminya, keberanian, keutamaan, kemurahan dan kedermawanannya.
Bila seorang suami tidak mau duduk sejenak
untuk bercengkerama dengan istrinya dengan alasan terlalu sibuk, banyak hal
yang lebih penting yang harus diurusi dan sebagainya, maka seharusnyalah ia
melihat bagaimana sosok seoarang Rasulullah. Hari-hari beliau juga dipenuhi
dengan kesibukan, menyampaikan risalah dari Allah subhanahu wa ta’ala,
mengajari manusia, memimpin negeri dan umat, menegakkan kalimatullah di muka
bumi dengan jihad fi sabilillah dan sebagainya, namun beliau menyempatkan duduk
mendengar cerita istrinya yang panjang. Maka sewajarnyalah kita mencontoh
akhlah rasulullah yang sungguh baik mu’amalah beliau terhadap istri, mendengarkan
cerita panjang dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan penuh seksama,
walaupun sesibuk dan seberapa padatnya rasulullah dalam berdakwah.
Mungkin terlintas pertanyaan di benak anda,
bukankah para wanita itu menceritakan aib suami mereka, sedangkan kisah seperti
itu disampaikan oleh sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, bukankah ini ghibah ? Maka sebagai jawaban, ini bukanlah
ghibah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan istrinya
terus berkisah, seandainya hal itu terlarang dan mungkar niscaya rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak akan diam dari kemungkaran dan menegurnya. Maka, Apa
yang diceritakan Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah pembicaraan yang mubah(dibolehkan),
yang tidak ada di dalamnya perkara yang terlarang. Karena menceritakan orang
yang tidak diketahui dan tidak tau asal – usulnya atau siapa wanita – wanita
itu, dan siapa pula suami mereka, sehingga terhindar dari ketersinggungan atau
pun ada yang merasa tersakiti bahkan terdzholimi[52].
Maka
semestinyalah seorang kekasih mendengarkan perkataan kekasihnya, baik dalam
bentuk curahan hati, atau pun masalah – masalah yang dialaminya, serta
memberikan tanggapan yang baik, dan seharusnya jugalah menuturkan kata – kata
yang baik pula. Berdiam dan mendengarkan yang baik, serta memahami masalah
bukanlah hal sepele seperti membalikkan telapak tangan, perlu latihan dan
kesabaran serta istiqomah. Disini ada beberapa hikmah diam, diantaranya :
Pertama
: “Sebagai
ibadah tanpa bersusah payah”, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا
مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ
Artinya
: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia”.(an-Nisaa’:
114)
Kedua : “Benteng tanpa
pagar”, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
مَا يَلْفِظُ مِنْ
قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya
: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat Pengawas yang selalu hadir”.(Qaaf : 18)
Ibnu
Katsir Rahimahullah berkata dalam menukil perkataan Ibnu ‘Abbas : Malaikat
tersebut mencatat setiap perkataan hamba, yang baik maupun yang buruk hingga
mereka menulis perkataan; saya makan, saya minum, saya pergi, saya datang, dan
saya melihat”. Dan Ibnu Katsir juga berkata : “Disebutkan bahwa Imam Ahmad
mengeluh ketika sakit. Kemudian ia mendengar Thawus berkata, Malaikat mencatat
segala sesuatu hingga suara keluhan. Imam Ahmad pun tidak pernah mengeluh lagi
hingga meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya”[53].
Ketiga : “ Menunjukkan
kesempurnaan iman”, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya
: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia
berkata yang baik atau diam”[54].
Ibnu
Hajar Rahimahullah berkata : “Hadits ini termasuk jawami’ul kalim (perkataan
ringkas tapi mengandung makna yang luas), karena perkataan itu kalau tidak baik
pasti jelek atau bermuara kepada salah satunya. Yang termasuk perkataan yang
baik, segala perkataan yang dianjurkan dalam syariat baik yang wajib maupun
sunnah, sehingga perkataan jenis ini dengan segala bentuknya diperbolehkan, begitu
pula semua perkataan akan mengarah kembali kepadanya. Selain hal itu, berupa
perkataan yang buruk dan segala perkataan yang mengarah kepada keburukan,
seseoarang diperintahkan untuk diam ketika hendak mengatakannya”[55].
Keempat : “Menutupi segala
aib”, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِى لَهَا بَالًا ،
يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ
مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِى لَهَا بَالًا يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
Artinya
: “Sesungguhnya
ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu
Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang
hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak
pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam”[56].
Dihadist
yang lain rasulullah bersabda :
إِنَّ الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى
النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Artinya
: “Sesungguhnya
ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan
bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak
yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat”[57].
Diam itu
lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mengejek yang
mengandung maksiat. Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak
apa-apa, namun di sisi Allah bisa jadi perkara besar. Allah ta’ala berfirman :
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ
وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ
هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
Artinya
: “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut
dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan
kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah
besar. (QS. An Nur: 15)
[1]
Hadist riwayat ahmad 4/408, dan terdapat juga di shohihul jami’
[2]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, hal 455, no
2654
[3]
Hadist riwayat bukhori, fathul bari fi syarhi shohihul bukhori, jilid 1, hal
90, no 16
[4]
Hadist riwayat bukhori dan muslim, fathul bari fi syarhi shohihul bukhori,
jilid 1, hal 88, no 15, dan di shohihul muslim bi syarhi nawawi,jilid 1, hal
290, no 44
[5]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 9, hal 5, bab
zikir, no 2675
[6]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, hal 366, no
2567
[7]
http://rebornes.wordpress.com/2012/10/03/kisah-cinta-suami-isteri-yang-mencintai-karena-allah/
[8]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 3, hal 325, no
778
[9]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 3, hal 326, no
781
[10]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 3, hal 273, no
744
[11]
Hadist riwayat Ibnu Majah, no 1335, dan Abu Dawud no 1309. Hadits ini
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/243).
[12]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 3, hal 325, no
780
[13]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 1, hal 366, no
91
[14]
Hadist riwayat ahmad dan nasa’i
[15]
Tafsirul qur’anul adzhim, ibnu katsir, jilid 5, hal 201
[16]
Tafsirul qur’anul adzhim, ibnu katsir, jilid 2, hal 335
[17]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 2, hal 144, bab
siwak,no 253
[18]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 7, hal 305, no
2079
[19]
(HR. Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad 594; Bulughul Maram no.965 dan dihasankan
oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ nomor 1601)
[20]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 5, hal 296, no
2585
[21]
Hadist riwayat bukhori, fathul bari fi syarhi shohihul bukhori, jilid 5, hal
277, no 2566
[22]
Hadist riwayat at thabarani, didalam fathul bari fi syarhi shohihul bukhori,
hal 279
[23]
Hadist riwayat bukhori, fathul bari fi syarhi shohihul bukhori, jilid 11, hal
558, no 6539
[24]
Hadist riwayat ahmad, no 26016
[25]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 2, hal 214,
kitab haid, no 301
[26]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 5, hal 314, no
1468
[27]
Hadist riwayat bukhori dan muslim, fathul baari fi syarhi shohihul bukhori,
jilid 10, hal 634, no 6024, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 7, hal 399,
no 2165
[28]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, hal 391, no
2594
[29]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, hal 390, no 2592
[30]
Hadist riwayat bukhori dan muslim, fathul baari, no 3662, shohih muslim, no
2384
[31]
Zaujatunnabi saw at thohirat wa hikmatu ta’adduduhunna, hal 77
[32]
Mut’ah yaitu suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah
diceraikan menurut kesanggupan suami
[33]
Zaujatunnabi saw at thohirat wa hikmatu ta’adduduhunna, hal 87
[34]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 5, hal 331, no
1474
[35]
Hadist riwayat muslim, shohih muslim, no 1437
[36]
Hadist riwayat muslim, shohih muslim, no 2482, dan hadist riwayat
bukhori,fathul baari, no 6289
[37]Fathul
baari, hal 114
[38]
Hadist riwayat bukhori, fathul baari, no 6231,6234 dan hadist riwayat muslim,
shohih muslim, no 2160
[39]
Zaujatunnabi saw at thohirot wa hikmatu taa’duduhunna, hal 103
[40]
Aku melimpahkan rahmat dan ampunan kepadamu
[41]
Hadist riwayat muslim, shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, bab fadhilah
zainab r.a, hal 245, no 2452
[42]
Syarah shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, bab fadhilah zainab r.a, hal
245, no 2452
[43]
Zaujatunnabi saw at thohirot wa hikmatu taa’duduhunna, hal 124
[44]
Tihamah
merupakan negeri yang panas, tidak ada angin dingin yang berhembus di sana.
Pada malam harinya, deburan ombak lautnya begitu tenang, suhu udaranya sedang,
sehingga malam di Tihamah menyenangkan bagi penduduknya karena dapat
menghilangkan kelelahan yang mereka alami akibat teriknya panas di siang hari.
[45]
Suaminya
sangat dermawan, banyak tamu yang mendatanginya hingga ia sering menyembelih
hewan dan memasaknya sebagai jamuan bagi tamu-tamunya. Karena seringnya
memasak, banyak debu yang dihasilkan. Ia juga dermawan pada keluarganya.
[46]
Sebagian ahlul ilmi mengatakan, makna dari
lafadz ini adalah kedua pantat wanita itu besar sehingga bila ia berbaring
terlentang di atas punggungnya, badan yang dekat dengan pantatnya terangkat,
tidak menyentuh bumi hingga ada celah yang bisa dilewati buah delima.
[47]
Dia
pergi berperang, pulang dengan membawa kemenangan dan ghanimah, hingga ia bisa
mendatangkan hewan ternak yang banyak.
[48] Dalam riwayat Muslim: “dari setiap yang
disembelih”. Ummu Zar’in hendak menggambarkan banyaknya pemberian yang
diberikan suaminya kepadanya hingga ketika memberi ia tidak hanya memberi satu.
[49]
Hadist riwayat bukhori dan muslim, fathul bari fi syari shohihul bukhori, jilid
9, hal 216, no 5189. Dan shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid 8, hal 228, no
2448
[50]
Fathul bari fi syarhi shohihul bukhori, jilid 9, kitab nikah, hal 244
[51]
Syarah shohihul muslim bi syarhi nawawi di no hadist 2448, jilid 8, hal 230
[52]Syarah
dari Al – hafidz Ibnu hajar Al – asqalani di Fathul bari fi syari shohihul
bukhori, jilid 9, hal 246. Dan syarah shohihul muslim bi syarhi nawawi, jilid
8, hal 238. Perkataan dari imam Al khatthabi dan imam Al – mazry.
[53]
Tafsir al qur’an al adzhim,ibnu katsir, jilid 6, hal 517
[54]
Hadist riwayat bukhori dan muslim. Fathul bari (no 6018),shohih muslim (47)
[55]
Fathul bari, hal 630
[56]
Hadist riwayat bukhori, fathul bari (no 6478)
[57]
Hadist riwayat muslim, shohih muslim (no 2988)
No comments:
Post a Comment