Monday, April 13, 2015

Pengertian Islam tentang Cinta



PENGERTIAN ISLAM TENTANG CINTA
Pembahasan masalah cinta sangat banyak dikalangan kaum muslimin dan muslimat, banyak definisi-definisi yang mengartikan cinta, ada yang mengatakan bahwa cinta itu adalah sebuah kecondongan hati yang kuat, mengaharapkan disetiap waktu bersama yang dicinta, selalu memenuhi keinginan orang yang dicinta, melengkapi kekurangan yang ada, selalu diingat dan tak akan pernah terlupakan, atau yang dapat membutakan mata dari segala sesuatu yang indah selain yang dicinta, yang membuat tuli untuk didengar oleh telinga selain ucapan dari sang yang dicinta. sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam ahmad radhiyallahu ‘anhu, dalam hadist rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَ يُصِمُّ
Artinya : “cinta kamu kepada sesuatu membutakan dan menulikan”[1].
Dan cinta itu memang sebuah perasaan yang aneh dan samar – samar, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, perasaan yang sulit untuk didefinisikan ataupun diperjelaskan. Maka cinta itu ialah sebuah pertemuan antara dua ruh diiringi dengan perasaan yang suci. Namun sebuah cinta yang suci ini, banyak diantara manusia yang telah mengotorinya, membuat cinta itu hina atas kejelekan akhlak oleh pelakunya. Cinta yang susah oleh akal untuk diterangkan hanya bisa dilakukan dengan sebuah pemberian dan pengorbanan tanpa egoisme dan balas jasa ataupun kesombongan tanpa pamrih.
Cinta itu juga bagaikan tumbuhan hijau, apabila dipelihara dan dijaga, dikasih pupuk serta disiram maka ia akan berkembang dan banyak mengahasilkan manfaat dalam kebaikan, dan sebaliknya apa bila ia ditinggalkan atau tidak dipelihara maka ia akan layu dan kering terus mati, sehingga akan ada yang merasa tersakiti atas cinta, karena ketidak peduliannya serta tidak menghasilkan manfaat apa – apa.   
Maka timbullah pertanyaan dikalangan kaum muslimin dan muslimat, apakah cinta itu dihalalkan atau diharamkan oleh agama…?
Dengan pertanyaan ini didalam al qur’an pun banyak ayat yang menjelaskan tentang cinta, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَ مِنَ النّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أّنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ
Artinya : “Dan diantara manusia ada orang – orang yang menyembah tandingan – tandingan selain Allah, mereka mencintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan adapun orang – orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (Al – baqarah : 165)
Diayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يآأَيُّهَا اللَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنهِ فَسَوْفَ يَأْتِ اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبّهُمْ وَ يُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
Artinya : “Hai orang – orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai – Nya, yang bersikap lembut terhadap orang yang mukmin yang bersikap keras terhadap orang – orang kafir”. ( Al – maidah : 54)
Diayat yang lain lagi Allah berfirman :

إِنَّ اللَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
Artinya : “sesungguhnya orang – orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak yang maha pemurah[2] akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. ( Maryam : 96)
Agama islam telah mengajarkan tentang pengertian cinta yang sesungguhnya, yaitu harus selalu mendapatkan dan diringi ridho Allah subhanahu wa ta’ala, serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan tidak mencintai makhluknya secara berlebihan, maka lakukanlah segala sesuatu untuk yang dicintai karena Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ , فَقَالَ : إِنِّى أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ . قَالَ : فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ . ثُمَّ يُنَادِى فِى السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ :إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُوْهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ . 
Artinya :  “Sesungguhnya Allah jika mencintai hambanya maka dipanggillah malaikat jibril, dan berkata : sesungguhnya aku mencintai hamba ini maka cintailah ia. Maka jibril pun mencintainya dan berseru dilangit (kepada malaikat – malaikat) bahwasanya Allah mencintai dia maka cintailah ia. Dan para langitpun mencintai dia[3].
Para ulama mengatakan bahwasanya jika Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hambanya pertanda kebaikan, hidayah, nikmat serta kasih sayangnya terhadap hambanya. Dan cintanya jibril serta para malaikat yang lain itu ada dua kebaikan :
1.      Para malaikat memohon ampun kepada Allah swt bagi hamba yang dicintainya, serta pujian dan do’a para malaikat untuk hamba yang dicintai.
2.      Cinta para malaikat terhadap dirinya.[4]
Maka sesungguhnya orang yang beriman tidak akan mencintai kecuali hanya karena Allah dan membencipun hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena ia tidak akan mencintai atau membenci kecuali apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam [5]. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ أَحَبَّ للهِ وَ أَبْغَضَ للهِ وَ أَعْطَى للهِ, وَ مَنَعَ للهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيْمَانُ
Artinya : “barang siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah dan memberi karena Allah, melarang karena Allah maka sempurna lah imannya[6].
Cinta yang berlandaskan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak akan berkurang selama iman kita kokoh, tidak mengharapkan balasan atau pun ganjaran kecuali ridho ilahi, mencintai dengan ikhlas, berkorban tanpa mengharapkan pamrih, berjuang tanpa ada kata putus asa, pantang menyerah dan terus semangat. Demikianlah orang yang beriman, melakukan apa yang semestinya ia lakukan dan meninggalkan apa yang diharamkan atau dilarang oleh agama.
Cinta dalam islam bukan hanya ucapan belaka, akan tetapi juga harus diiringi dengan tindakan yang sudah ditetapkan oleh syariat agama. Saling mempercayai satu sama lainnya dan saling memahami, saling mendoakan dan saling menasehati dalam kebaikan.
Banyak yang mengatakan  katanya islam itu melarang cinta, dan membuat kehidupan tanpa ada rasa kasih sayang serta belas kasihan, hidup penuh larangan dan aturan, dan itu semuanya salah.
Sesungguhnya kita sudah mengetahui bagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup dengan istri – istri beliau, yang diiringi dengan penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang telah diungkapkan rasulullah saw terhadap mereka, begitu juga kepada para sahabat – sahabat, bahkan kepada orang yang memusuhi rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu sesungguhnya islam tidak mengharamkan cinta atau pun melarangnya, akan tetapi cara kitalah yang salah dalam mengartikan dan mempraktekkan cinta.


[1] Hadist riwayat ahmad
[2] Dalam surat maryam ini, nama Allah swt, arrahman (Allah yang maha pemurah banyak disebut untuk member pengertian  bahwa Allah swt.memberi ampun tanpa perantara.
[3] Hadist riwayat muslim, shohih muslim, jilid 8, no 2637, hal 433, kitabul birri was shillah wal adab
[4] Sohih muslim, syarah imam nawawi,jilid 8, hal 434
[5] Minhajul muslim,abu bakar jabir al jazairy, hal 102
[6] Hadist riwayat tirmidzi

No comments:

Post a Comment