PENGERTIAN
ISLAM TENTANG CINTA
Pembahasan masalah cinta sangat banyak
dikalangan kaum muslimin dan muslimat, banyak definisi-definisi yang
mengartikan cinta, ada yang mengatakan bahwa cinta itu adalah sebuah
kecondongan hati yang kuat, mengaharapkan disetiap waktu bersama yang dicinta,
selalu memenuhi keinginan orang yang dicinta, melengkapi kekurangan yang ada,
selalu diingat dan tak akan pernah terlupakan, atau yang dapat membutakan mata
dari segala sesuatu yang indah selain yang dicinta, yang membuat tuli untuk
didengar oleh telinga selain ucapan dari sang yang dicinta. sebagaimana yang
diriwayatkan oleh imam ahmad radhiyallahu ‘anhu, dalam hadist rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
حُبُّكَ الشَّيْءَ
يُعْمِي وَ يُصِمُّ
Artinya : “cinta kamu kepada sesuatu membutakan dan
menulikan”[1].
Dan cinta itu memang sebuah perasaan yang aneh
dan samar – samar, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, perasaan
yang sulit untuk didefinisikan ataupun diperjelaskan. Maka cinta itu ialah
sebuah pertemuan antara dua ruh diiringi dengan perasaan yang suci. Namun
sebuah cinta yang suci ini, banyak diantara manusia yang telah mengotorinya, membuat
cinta itu hina atas kejelekan akhlak oleh pelakunya. Cinta yang susah oleh akal
untuk diterangkan hanya bisa dilakukan dengan sebuah pemberian dan pengorbanan
tanpa egoisme dan balas jasa ataupun kesombongan tanpa pamrih.
Cinta itu juga bagaikan tumbuhan hijau, apabila
dipelihara dan dijaga, dikasih pupuk serta disiram maka ia akan berkembang dan
banyak mengahasilkan manfaat dalam kebaikan, dan sebaliknya apa bila ia
ditinggalkan atau tidak dipelihara maka ia akan layu dan kering terus mati, sehingga
akan ada yang merasa tersakiti atas cinta, karena ketidak peduliannya serta
tidak menghasilkan manfaat apa – apa.
Maka timbullah pertanyaan dikalangan kaum
muslimin dan muslimat, apakah cinta itu dihalalkan atau diharamkan oleh agama…?
Dengan
pertanyaan ini didalam al qur’an pun banyak ayat yang menjelaskan tentang
cinta, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَ مِنَ النّاسِ مَنْ
يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أّنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَ الَّذِيْنَ
آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ
Artinya : “Dan diantara manusia ada orang – orang
yang menyembah tandingan – tandingan selain Allah, mereka mencintai sebagaimana
mereka mencintai Allah. Dan adapun orang – orang yang beriman sangat cinta
kepada Allah”. (Al – baqarah : 165)
Diayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يآأَيُّهَا اللَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنهِ فَسَوْفَ يَأْتِ اللهُ بِقَوْمٍ
يُحِبّهُمْ وَ يُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى
الْكَافِرِيْنَ
Artinya : “Hai orang – orang yang beriman, barang
siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai –
Nya, yang bersikap lembut terhadap orang yang mukmin yang bersikap keras
terhadap orang – orang kafir”. ( Al – maidah : 54)
Diayat yang lain lagi
Allah berfirman :
إِنَّ اللَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
Artinya : “sesungguhnya orang – orang yang beriman
dan beramal shaleh, kelak yang maha pemurah[2]
akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. ( Maryam : 96)
Agama islam telah
mengajarkan tentang pengertian cinta yang sesungguhnya, yaitu harus selalu
mendapatkan dan diringi ridho Allah subhanahu wa ta’ala, serta menjalankan
perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan tidak mencintai makhluknya secara
berlebihan, maka lakukanlah segala sesuatu untuk yang dicintai karena Allah subhanahu
wa ta’ala, sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ إِذَا
أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ , فَقَالَ : إِنِّى أُحِبُّ فُلَانًا
فَأَحِبَّهُ . قَالَ : فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ . ثُمَّ يُنَادِى فِى السَّمَاءِ
فَيَقُوْلُ :إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُوْهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ
السَّمَاءِ .
Artinya : “Sesungguhnya Allah jika mencintai hambanya
maka dipanggillah malaikat jibril, dan berkata : sesungguhnya aku mencintai
hamba ini maka cintailah ia. Maka jibril pun mencintainya dan berseru dilangit
(kepada malaikat – malaikat) bahwasanya Allah mencintai dia maka cintailah ia.
Dan para langitpun mencintai dia[3].
Para ulama mengatakan
bahwasanya jika Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hambanya pertanda kebaikan,
hidayah, nikmat serta kasih sayangnya terhadap hambanya. Dan cintanya jibril
serta para malaikat yang lain itu ada dua kebaikan :
1. Para malaikat memohon ampun kepada Allah swt bagi
hamba yang dicintainya, serta pujian dan do’a para malaikat untuk hamba yang
dicintai.
2. Cinta para malaikat terhadap dirinya.[4]
Maka sesungguhnya orang
yang beriman tidak akan mencintai kecuali hanya karena Allah dan membencipun
hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena ia tidak akan mencintai atau
membenci kecuali apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala
dan rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam [5]. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ أَحَبَّ للهِ وَ
أَبْغَضَ للهِ وَ أَعْطَى للهِ, وَ مَنَعَ للهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيْمَانُ
Artinya : “barang siapa yang mencintai karena Allah
dan membenci karena Allah dan memberi karena Allah, melarang karena Allah maka
sempurna lah imannya[6].
Cinta yang berlandaskan
iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak akan berkurang selama iman kita
kokoh, tidak mengharapkan balasan atau pun ganjaran kecuali ridho ilahi,
mencintai dengan ikhlas, berkorban tanpa mengharapkan pamrih, berjuang tanpa
ada kata putus asa, pantang menyerah dan terus semangat. Demikianlah orang yang
beriman, melakukan apa yang semestinya ia lakukan dan meninggalkan apa yang
diharamkan atau dilarang oleh agama.
Cinta dalam islam bukan
hanya ucapan belaka, akan tetapi juga harus diiringi dengan tindakan yang sudah
ditetapkan oleh syariat agama. Saling mempercayai satu sama lainnya dan saling
memahami, saling mendoakan dan saling menasehati dalam kebaikan.
Banyak yang mengatakan
katanya islam itu melarang cinta, dan membuat kehidupan tanpa ada rasa
kasih sayang serta belas kasihan, hidup penuh larangan dan aturan, dan itu
semuanya salah.
Sesungguhnya kita sudah mengetahui bagaimana
rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
hidup dengan istri – istri beliau, yang diiringi dengan penuh dengan rasa cinta
dan kasih sayang yang telah diungkapkan rasulullah saw terhadap mereka, begitu
juga kepada para sahabat – sahabat, bahkan kepada orang yang memusuhi
rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka dari itu sesungguhnya islam tidak mengharamkan cinta atau pun melarangnya,
akan tetapi cara kitalah yang salah dalam mengartikan dan mempraktekkan cinta.
[1]
Hadist riwayat ahmad
[2]
Dalam surat maryam ini, nama Allah swt, arrahman (Allah yang maha pemurah
banyak disebut untuk member pengertian
bahwa Allah swt.memberi ampun tanpa perantara.
[3]
Hadist riwayat muslim, shohih muslim, jilid 8, no 2637, hal 433, kitabul birri
was shillah wal adab
[4]
Sohih muslim, syarah imam nawawi,jilid 8, hal 434
[5]
Minhajul muslim,abu bakar jabir al jazairy, hal 102
[6]
Hadist riwayat tirmidzi
No comments:
Post a Comment