Monday, April 13, 2015

Pencarian Cinta



PENCARIAN CINTA 
Mencari kekasih tidaklah segampang dan semudah membalikkan tangan, perlu adanya usaha dan do’a serta ketawakkalan dalam mencari cinta, karena masalah ini berhubungan bagaimana kehidupan dimasa depan nanti. Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sosok wanita yang baik sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam nasa’i dan imam ahmad radhiyallahu ‘anhuma :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Artinya : “Dari Abi Hurairah, berkata : rasulullah saw ditanya : Wanita yang bagaimanakah yang baik ? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi[1].
Di hadist yang lain, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya : “Seorang wanita itu dinikahi karena empat faktor, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah yang baik agamanya agar tidak celaka”[2].
Yang dimaksud adalah baik dalam hartanya dan kemuliaan keturunannya, serta kecantikannya. Dan yang dimaksud dalam agamanya yang baik adalah faham tentang agama islam, berakhlak sesuai tuntunan agama islam dan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta adab yang mulia. Begitu juga taat atas segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Begitu juga rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepada wanita untuk mencari pasangannya atau lelaki yang sholeh sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَ خُلْقَهُ فَزَوِّجُوْهُ إِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةً فِى الأَرْضِ وَ فَسَادٌ كَبِيْرٌ
Artinya : “apabila datang kepada kalian orang yang kalian anggap agamanya bagus dan akhlaknya baik maka nikahkanlah ia,kalau tidak maka akan menjadi fitnah didunia dan akan menimbulkan kerusakan yang besar”[3].
Wahai sahabatku, kita pastinya menginginkan cinta sejati, Hidup berpasangan dengan orang yang kita cintai, bahagia bersama sakitpun bersama, maka dari itu dapatkanlah cinta Allah subhanau wa ta’ala maka kita akan mendapatkan cintanya manusia, karena Allah lah yang menciptakan rasa cinta dan Allah juga yang akan menghilangkannya akibat perbuatan kita yang melanggar perintahnya. Dengan mendapatkan cinta Allah, maka Allah akan menaburkan rasa cinta kepada ummat manusia[4]. Salah satu cara untuk mendapatkan orang yang pantas menjadi kekasih kita adalah ta’aruf, yang bertujuan untuk saling kenal mengenal satu sama lainnya. Banyak kejadian dilingkungan sekitar kita, orang yang sedang berdekatan dengan lawan jenis layaknya mereka yang sedang berpacaran dibahasakan dengan ta’aruf, karena tidak mau dibilang pacaran. Namun  istilah ta’aruf yang mereka maksud sama persis kelakuannya dengan mereka yang berpacaran. Mungkin juga karena mereka belum paham, ataupun pura – pura tidak paham, padahal mereka mengetahui arti dari sebuah ta’aruf, ta’aruf seperti apa yang dimaksudkan oleh agama islam. Ada yang beranggapan ta’aruf tidak ada bedanya dengan pacaran, bagi mereka ta’aruf sama dengan  pacaran, pacaran sama saja dengan ta’aruf, cuman hanya beda istilah “kata mereka”. Padahal pada kenyataannya, Pacaran dan Ta’aruf adalah dua hal yang sangat berbeda. Pacaran adalah sebuah perbuatan yang tidak layak dilakukan seorang muslim atau muslimah, karena terdapat perbuatan – perbuatan yang tidak dibolehkan oleh agama, seperti bersentuhan tangan, bilang sayang – sayangan. Sedangkan Ta’aruf adalah anjuran agama, agar saling kenal mengenal satu sama lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujuraat: 13)
Diayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
 Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (Ar rum : 22)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ , وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Artinya : “sesungguhnya Allah, tidak melihat dari rupa kalian atau harta kalian, namun akan tetapi Allah melihat kehati kalian dan pekerjaan kalian”[5].

Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan kita dengan beragam warna kulit, beragam bahasa, menjadikannya bersuku-suku, untuk masing-masing kita saling berkenalan. Ada banyak faktor kenapa orang harus berkenalan, seperti yang bertujuan untuk menambahkan teman, mempelajari budaya orang lain, berbisnis, berdagang, mencari jodoh, dan lain - lainnya, selama perkenalan itu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan dan cara-cara yang baik, maka perkenalan itu akan mendatangkan keberkahan pula dari Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi yang paling penting yang hendak disampaikan oleh ayat – ayat dan hadist ini adalah mengingatkan kita agar selalu memiliki semangat iman dan taqwa ketika akan berkenalan dengan orang lain. Artinya, ta’aruf atau perkenalan apapun yang akan kita lakukan, harus diiringi dengan iman dan taqwa. Termasuk perkenalan yang kita lakukan untuk tujuan menikah. Namun yang menjadi masalah adalah apakah kekasih kita nanti orangnya baik sesuai yang kita inginkan,,??
Coba kita perhatikan ayat – ayat Allah subhanahu wa ta’ala yang dibawah ini :
وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ                                                   
Artinya : “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah”.  (QS. Adz Dzariyaat :49)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
ٱلْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُو۟لٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌۭ
Artinya : “Wanita - wanita yang keji adalah untuk laki – laki yang keji, dan laki – laki yang keji adalah untuk wanita – wanita yang keji (pula), dan wanita – wanita yang baik adalah untuk laki – laki yang baik dan laki – laki yang baik adalah untuk wanita – wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (mereka yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (QS. An Nuur :26)
Jadi,perilaku kita adalah cermin bagaimana nanti calon kita, kalau kita baik (sholeh) maka istri kita pun insya Allah juga baik (sholehah) begitu juga sebaliknya, kalau kita buruk atau keji maka istri kita pun juga begitu, karena itu sudah janji Allah subhanahu wa ta’ala, maka sebelum terlambat, marilah kita perbaiki diri kita sejak dini.
Seringkali kita menemukan orang yang begitu mudahnya bertemu dengan pasangan mereka, melalui proses perkenalan yang bisa dibilang sangat singkat, tetapi pernikahan mereka penuh cinta, keberkahan, kasih sayang, dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah. Disisi yang lain kita melihat orang yang begitu sulit menemukan pasangannya, kemudian melakukan proses perkenalan yang tidak layak dilakukan oleh seorang muslim atau muslimah, yaitu perkara-perkara yang mendekati zina, padahal Allah sudah melarang segala sesuatunya yang mendekatkan diri dari perkara zina. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَ سَاءَ سَبِبْلًا
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. ( Al – isro :32)
setelah menikah pun, ternyata pernikahan mereka ternyata tidaklah bertahan lama, kalaupun bertahan, masing-masing anggota keluarganya merasa tidak ada kasih sayang, tidak ada cinta, tidak ada tujuan-tujuan yang besar yang ingin dibangun dari sebuah keluarga muslim. Dari sini kita bisa mengetahui penyebab yang membedakan diantara keduanya adalah perilaku seorang pada kondisi pertama yang dilandasi oleh iman dan taqwa, dan sedangkan pada kondisi kedua, mereka hanya berdasarkan hawa nafsu belaka. Semua bentuk perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan hanyalah untuk huru hara, Cuma untuk main – main saja, segala perbuatannya pun berlandasan nafsu. Masa-masa perkenalan yang pada awalnya bertujuan baik agar dapat mengenali karakter sang calon, berubah menjadi moment pacaran yang tidak ada ajarannya dalam syariat islam. Betapa banyak mereka yang pada awalnya memiliki niat untuk perkenalan yang baik, tetapi tidak sedikit yang akhirnya jatuh kepada perkara yang bertentangan dengan agama. “ niat yang baik bukan berarti bisa menghalkan segala cara”.
Hasil dari ta’aruf dan pacaran pun sangatlah jauh berbeda, yaitu diantaranya adalah : Pertama, ta'aruf itu bertujuan untuk saling kenal mengenal, yang berlandasan iman dan taqwa, dan insya Allah tidak akan ada penyesalan atau pun sakit hati, dan seandainya tidak jadi menikah karena merasa tidak cocok, ia pun akan bertwakkal dan yakin pasti ada yang lebih baik yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada dirinya. Sedangkan pacaran, niatnya hanya ingin mendapatkan cinta kekasihnya, sehingga ia lupa akan siapa yang telah menciptakan rasa cinta itu, dan siapa yang menciptakan drinya sendiri yang membuat dia begitu sempurna dibandingkan dengan yang lainnya.
Kedua, ta'aruf itu selalu merasa bahwasanya Allah menjaga dia, dan dia pun selalu mengingat Allah disetiap waktu, sehingga ia pun tidak berani untuk berbuat sesuatu yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala, karena dia yakin bahwasanya Allah maha mengetahui dan maha melihat, yang tujuannya hanyalah ibadah yang sudah jadi tuntunan oleh ajaran agama sebagai ajang silaturrahim dan saling kenal mengenal. Sedangkan pacaran yang diinginkan agar selalu berduaan, bermesraan, lupa akan Allah subhanahu wa ta’ala dan lupa juga akan batasan dalam agama, sehingga hancurlah ia karena hasutan syetan. Golongan yang pertama yaitu ta’aruf selalu mengingat Allah dan golongan yang kedua yaitu pacaran seakan – akan cinta kepada manusialah yang lebih utama (diatas dari segala - galanya, dan menjadikan cinta kepada manusia sebagai dzikirnya. Naudzubillah min dzalik…
Ketiga, hati orang yang melakukan ta'aruf  selalu tenang, damai, tentram karena dzikirnya kepada Allah dan semua permasalahan diserahkan kepada Allah dengan berkeyakinan selama usahanya untuk kebaikan, maka Allah pun akan mendatangkan kebaikan pula.akan tetapi hati yang kedua yang melakukan pacaran selalu gelisah, gundah, rumuh, galau dan lain – lain karena hasutan syetan, yang tujuannya hanya mengejar cinta dunia, sehingga melupakan siapa yang menciptakan rasa cinta yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
Keempat, didalam ta'aruf selalu menjaga adab dalam berhubungan antara laki-laki dan perempuan, baik ada pihak ketiga yang memperkenalkan diantara keduanya. Serta saling menjaga perasaan agar tidak ada yang tersakiti ataupun terdzholimi, sehingga kemungkinan dalam berdua – duaan kecil yang artinya terhindar dari perbuatan zina.
Nah ternyata ta'aruf banyak kelebihannya ( dalam segi kebaikan ) dibanding pacaran dan Insya Allah diridhoi Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, wahai sahabat !!! kita mau mencari kebahagian dunia akhirat dan menggapai ridho-Nya atau mencari kesulitan, mencoba-coba melanggar dan mendapat murka-Nya ? Jawaban ada ditangan anda..!!
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Dan di antara ayat – ayat – Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda – tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar – rum : 21)
Dari ayat ini kita bisa mengambil beberapa kutipan makna yaitu :
Pertama, Sakinah
Yaitu perasaan nyaman, tentram atau tenang kepada yang dicintai,
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
Artinya : “supaya kamu merasa nyaman kepadanya”.
Dari sini kita bisa mengetahui hikmah dari ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala (laki – laki dan perempuan) sebagai ketenangan, ketentraman dan ketenangan terhadap jasmani, rohani dan akal sehingga dengan berkumpulnya dua jenis menjadi sebuah kebahagiaan, karena masing – masing saling membutuhkan satu sama lainnya, terciptanya wanita dari tulang rusuk laki – laki dan laki – laki pun mencari tulang rusuknya (perempuan), Wanita membutuhkan perhatian, pengertian, rasa hormat, kesetiaan, penegasan, jaminan, dan pria pun membutuhkan kepercayaan, penerimaan, penhargaan, pengaguman, persetujuan, dorongan dan lain – lain, karena memang pria dan wanita diciptakan untuk saling berpasang – pasangan dan saling melengkapi.
Ketentraman dalam sebuah hubungan adalah sebagian dari buah dari iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang dibina bersama secara istiqomah dan tentunya mahligai rumah tangga akan damai tenteram serta semua masalah akan dihadapi dengan saling menghormati, menghargai dan memahami.
 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : “ yaitu orang - orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (Qs. ar-Ra’du : 28)
Kedua, Mawadah
Dalam ayat :
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
Artinya : “dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah”.
Mawadah adalah cinta dan kelapangan dada.
Yang dimaksud disini adalah adanya dorongan batin yang kuat dalam diri sang pencinta untuk saling mencintai, senantiasa berharap kebaikan selalu menyertai kepada diri yang dicinta dan berusaha menghindarkan orang yang dicintainya dari segala hal yang buruk, dan semua yang dapat membuatnya merasa tersakiti.
Al-Qur’an juga menegaskan hubungan antara mawadah dan keinginan bersama, yaitu :
وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya : “Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada mawadah antara kamu dengan dia: "Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)". (An-Nissa 73)
Ketiga, rahmah
Dalam ayat diatas berbunyi :
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Artinya : “Dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah”.
Rahmah adalah kasih sayang dan kelembutan hati, seringnya timbul rasa ini karena ada ikatan. Seperti, cinta orang tua terhadap anaknya, atau sebaliknya. Dan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kepada kita agar saling mengasihi satu sama lainnya. Sebagaimana sabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ , اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Artinya : “Orang-orang yang menyebarkan kasih sayang, mereka selalu diberikan kasih sayang oleh yang Maha Penyayang. Maka Sayangilah mereka yang ada di bumi, maka makhluk yang ada di langit akan menyayangimu”[6].
Manusia diciptakan dengan rasa kasih sayang, Bumi dan alam semesta diciptakan Allah karena kasih sayangnya kepada manusia, maka selayaknya lah kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala begitu sempurna untuk menebarkan rasa kasih sayang terhadap sesama, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmatan lil’alamin, yaitu penyebar kasih sayang bagi seluruh alam.
Keempat, ayat-ayat Allah
Maksudnya cinta adalah sebagian dari ayat-ayat Allah,
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Rum 21)
Jadi, pondasi terbangunnya sebuah keluarga adalah al mawaddah atau al hubbu yang artinya cinta, dan rahmah yang artinya kasih sayang dan kelembutan hati yang harus ditanamkan dalam setiap individu sebuah keluarga agar terciptanya keluarga yang sakinah. Maka “Janganlah mencari orang yang sempurna untuk kau cintai Namun carilah orang yang pantas untuk kau cintai Lalu cintailah dia dengan cinta yang hakiki”. Karena sesempurnanya manusia pasti ada juga kekurangannya.


[1] Hadist riwayat ahmad dan nasa’i
[2] Hadist riwayat bukhori, fathul bari fi syaril bukhori, jilid 9, hal 45, no 5090
[3] Hadist riwayat tirmidzi
[4] Shohih muslim, syarah imam nawawi, jilid 8, hal 434
[5] Hadist riwayat muslim, shohih muslim, kitabul birri wa shillah wal adab,no 2564
[6] Hadist riwayat tirmidzi, abu daud dan ahmad

No comments:

Post a Comment